Langsung ke konten utama

Postingan

The Liebster Award?

Tanggal 16 Juni 2014 lalu, saya sedikit terkejut membaca sebuah mention dari seorang teman di Twitter yang mengatakan kalau saya mendapatkan penghargaan "The Liebster Award." Hm, saya jadi penasaran, penghargaan apakah itu? Yang jelas, sih, itu bukan udang yang besar-besar teman-teman. Oh, itu lobster, maaf, maaf, hehe... Mention itu membuat saya penasaran. Apa itu The Liebster Award? Dan, dari blog teman saya itu akhirnya saya tahu. The Liebster Award adalah sebuah penghargaan maya yang diberikan dari satu bloger ke blogger yang lain. Yah, seperti penghargaan berantai. Seru, kan? Pengin tahu lebih banyak tentang The Liebster Award ini? Gimana cara kerjanya? Dan, gimana peraturan mainnya? Yuk, kita intip tulisan teman saya di sini . Salah satu peraturan main dari The Liebster Award ini adalah mengucapkan terimakasih pada mereka yang telah menominasikan blog kita. Untuk itu, saya berterima kasih kepada teman saya, Frida, yang telah memasukkan blog saya menjadi sal...

"Kasihan Moni..."

Kala matahari mulai tergelincir, kamu masih berdiri di sudut sana. Di bawah tiang dengan lampu tiga warna yang menyala bergantian. Kau tidak sendiri, ada seekor hewan berbulu berekor panjang yang kau ikat dengan rantai. Dia yang kau panggil si Moni. Moni yang selalu setia menemanimu mencari secercah harapan untuk mengisi perutmu yang kosong. "Kasihan Moni." ucapmu. "Dia pasti ingin bebas. Dia pasti ingin lepas dari ikatan rantai ini." aku melihatmu mengusap kepala Moni yang sedang memakan sebuah pisang. "Sabar, ya, Moni. Tidak akan lama lagi, kamu akan bebas. Aku janji. Setelah uangku cukup, aku akan membebaskanmu." Aku tatap Moni yang lahap memakan pisangnya. Monyet kecil itu pasti sangat lapar. Sejak tadi pagi, ia belum makan apa - apa. Beruntung ada sebuah pisang yang terjatuh dari gerobak tukang buah tadi siang. Kamu memungutnya, dan memberikannya pada Moni. Padahal, aku yakin, perutmu pasti lebih perih menahan lapar. Tapi kamu memilih mengisi...

Memeluk Dingin...

Hujan... Butiran air itu seperti memukul - mukul tubuh kecilku. Aku kedinginan dibawah jembatan. Hanya kaos dan celana pendek kumal yang menyelimutiku, mencoba menghangatkan tubuhku dengan simpulan benang di dalamnya. Semakin lama, derai hujan itu bukannya berhenti. Tetapi malah semakin deras, membawa angin kencang dan petir yang menyambar langit. Aku peluk erat udara dingin di sekelilingku. Mulut kecilku berbisik, "Ibu, aku kedinginan. Aku ingin pulang. Aku ingin dipelukmu." seperti orang gila, aku memanggil - manggil nama "ibu" tanpa aku tahu wujudnya seperti apa. Tanpa aku tahu ia di mana. Tanpa aku tahu, dia siapa. "Ibu aku rindu..." Hari semakin gelap. Hujan tak kunjung reda. Aku masih bersandar di pilar jembatan di pinggir sungai dengan uang recehan yang aku dapat. Aku mendengar suara derap langkah kaki mendekatiku. Seseorang bertubuh besar, dengan daster selutut yang menutupi tubuhnya. Ia membawa sebuah payung besar yang menghalau hujan. "...