Langsung ke konten utama

"Kasihan Moni..."

Kala matahari mulai tergelincir, kamu masih berdiri di sudut sana. Di bawah tiang dengan lampu tiga warna yang menyala bergantian. Kau tidak sendiri, ada seekor hewan berbulu berekor panjang yang kau ikat dengan rantai. Dia yang kau panggil si Moni. Moni yang selalu setia menemanimu mencari secercah harapan untuk mengisi perutmu yang kosong.

"Kasihan Moni." ucapmu. "Dia pasti ingin bebas. Dia pasti ingin lepas dari ikatan rantai ini." aku melihatmu mengusap kepala Moni yang sedang memakan sebuah pisang. "Sabar, ya, Moni. Tidak akan lama lagi, kamu akan bebas. Aku janji. Setelah uangku cukup, aku akan membebaskanmu."

Aku tatap Moni yang lahap memakan pisangnya. Monyet kecil itu pasti sangat lapar. Sejak tadi pagi, ia belum makan apa - apa. Beruntung ada sebuah pisang yang terjatuh dari gerobak tukang buah tadi siang. Kamu memungutnya, dan memberikannya pada Moni. Padahal, aku yakin, perutmu pasti lebih perih menahan lapar. Tapi kamu memilih mengisi perut "si kecil" itu.

Senja sudah padam, giliran bintang - bintang yang bertengger di langit bersama sebuah bulan yang menjadi penyangga malam. Kamu hitung koin - koin dan lembaran - lembaran uang seribuan. Kamu tersenyum, banyak rupiah yang kamu dapat hari ini. "Terimakasih, Moni. Hari ini kita dapat uang banyak. Ayo kita pergi." kamu berdiri sambil menarik rantai Moni, membuatnya berjalan mengikutimu. Tidak seperti biasanya, kamu selalu menaruh Moni di pundakmu ketika pergi dan pulang. "Kalau tiap hari dapat uang sebanyak ini, kamu bisa cepat - cepat bebas Moni." kamu tersenyum lebar sementara Moni terus berjalan mengikuti langkahmu.

BRUK!!! Sesuatu menghantam trotoar. Kamu menoleh ke belakang, dan kamu dapati rantai Moni sudah putus. Matamu tak berkedip melihat tubuh Moni yang berlumuran darah. Semua orang mengerumuninya, tapi mereka hanya peduli pada pengendara motor yang tidak tahu tata tertib lalu lintas. Mereka mengangkat orang yang memakai helm full face hitam itu tanpa memperdulikan Moni.

Kamu berlari, meraih tubuh kecil Moni. Sudah tidak ada lagi desahan nafas yang kau rasakan keluar dari hidung Moni. Kamu berteriak, tapi lidahmu kelu, nafasmu tercekat, dan jantungmu seolah berhenti berdetak, membuat teriakanmu terjepit di dada. Tubuhmu melemas, kamu tersungkur di hadapan raga Moni yang sudah  mati.

Moni sekarang ada di sini, di atas pundakku. Dia tersenyum padamu meski pipinya basah. Dia sedih karena tidak bisa menemanimu di sudut jalan di bawah Jembatan Pasupati lagi. Tapi dia bahagia, karena dia sudah lepas dari rantai yang membelit lehernya selama ini. Dan, dia membisikan kata terimakasih, karena kamu sudah menjaganya selama ini.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cappuccino : Tentang Cinta yang Tak Selalu Manis

  Pernah mencintai diam-diam? Pernah menunggu seseorang yang tak pernah kembali? Atau… pernah merasakan cinta yang datang terlalu terlambat? Buku Cappuccino adalah kumpulan cerita pendek yang akan membawa kamu menyusuri berbagai rasa dalam cinta— dari yang manis, pahit, hingga yang akhirnya… harus dilepaskan. Di dalamnya, kamu akan menemukan kisah-kisah seperti: cinta diam-diam yang berakhir dengan senyuman terakhir perasaan yang tak pernah terbalas hubungan yang melelahkan hingga cinta yang… “kedaluwarsa” dimakan waktu  Setiap cerita ditulis dengan bahasa yang sederhana, tapi penuh perasaan— seolah kamu sedang membaca potongan hidupmu sendiri. 💔 Kenapa buku ini wajib kamu punya? ✨ Relatable banget (banyak yang bilang: “ini gue banget…”) 📖 Cocok dibaca santai tapi tetap ngena ☕ Setiap cerita seperti secangkir cappuccino: ada pahit, ada manis 🫶 Bisa jadi teman di saat kamu lagi overthinking soal cinta 🎯 Cocok untuk kamu yang: Lagi jatuh cinta diam-diam Sedang move on Pernah...

Menyambut Lailatul Qadar

 Resume Kajian Subuh Akhwat Al Lathiif Menyambut 10 Hari Terakhir Ramadhan Umi Aisyah 20 Ramadhan 1447 H Iman adalah motivasi terbesar dalam kehidupan seorang muslim. Dengan iman, seseorang mampu menjalani kehidupan dengan penuh harapan, ketenangan, dan kebahagiaan—baik di dunia maupun di akhirat. Iman bukan hanya sesuatu yang abstrak, tetapi bisa dijabarkan dalam kehidupan nyata dan dibuktikan melalui amal. Salah satu bentuk nyata dari iman adalah ketaatan kita menjalankan ibadah yang Allah perintahkan, termasuk ibadah puasa di bulan Ramadhan. Allah mensyariatkan puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi agar kita mencapai derajat takwa. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ÙŠَا Ø£َÙŠُّÙ‡َا الَّذِينَ آمَÙ†ُوا Ùƒُتِبَ عَÙ„َÙŠْÙƒُÙ…ُ الصِّÙŠَامُ ÙƒَÙ…َا Ùƒُتِبَ عَÙ„َÙ‰ الَّذِينَ Ù…ِÙ†ْ Ù‚َبْÙ„ِÙƒُÙ…ْ Ù„َعَÙ„َّÙƒُÙ…ْ تَتَّÙ‚ُونَ "Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 183...

Manusia Kuat Itu, Ibu

source: https://pin.it/3azR4oH3G Aku pikir manusia terkuat itu adalah orang yang memiliki kekuasaan, memeiliki banyak uang, hingga ia bisa mendapatkan apa pun yang dia mau. ternyata aku salah. Manusia terkuat itu adalah seorang yang mereka beri gelar, "Ibu". Ya, Ibu... Seorang perempuan yang rela meninggalkan dunia luasnya, demi menghidupkan dunia kecilnya yang ternyata tidak mudah. awalnya, ia pikir mengandung adalah masa tersulitnya. Badannya berubah. Suasana hatinya berubah. Bahkan selera makan pun berubah. ia yang dulu bisa makan apa saja, kini minum air putih saja rasanya mual. makan nasi putih dan telur dadar saja muntah. semakin perutnya membesar, memakai sepatu atau menggunting kuku saja perlu bantuan. posisi tidur tidak lagi nyaman. miring kiri, miring kanan, serba salah. Ia kira setelah bayinya lahir, beban itu hilang. Nyatanya, perjuangan itu baru akan dimulai. Melahirkan ternyata begitu sakit. Ia yang selalu merasa kuat, nyatanya berteriak ketika merasakan gelomba...