Ternyata menjadi seorang Ibu bukan hanya menyadarkan diri akan sisi kuatnya. Tapi ternyata memunculkan hal lain.
Lelah yang kerap kali menyergap, menghidupkan monster yang telah lama mati suri. Dari sudut paling gelap, yang bahkan cahaya tidak mampu menembus dindingnya, monster itu bangkit. Makhluk yang tidak pernah ia sadari ada sebelumnya. ternyata lelah mampu menghidupkannya.
Tetiba ia berteriak. Menangis. Histeris. Bahkan tanpa sadar tangannya melayang amat ringan meninggalkan jejak luka yang tak terlihat, namun kenangannya pasti teringat. Ia tidak pernah menyangka, ternyata setelah menjadi seorang ibu, ia bisa menjadi sejahat itu. Bahkan pada darah dagingnya sendiri.
Sesal kerap kali menghinggapi batinnya, tatkala tubuh kecil itu terlelap dalam tidurnya. Sayangnya ia hanya mampu menatap sepasang mata yang rapat. Ia hanya bisa mencium pipi lembutnya dan sesekali merasakan lembut sentuhan nafasnya.
Ia tidak menangis kali ini. Sudah terlalu banyak air matanya tumpah. Entah mungkin sudah mengering, atau bahkan mengeras. Hanya saja dadanya teramat sesak, karena sudah terlalu kuat menahan.
Nak, jika kamu masih ingat momen itu, ingatlah bahwa ibumu ada di ujung titik lemahnya. Ia terlalu lelah untuk berbicara lembut. Ia sudah teramat lelah untuk tersenyum. Dan ketika yang kau ingat adalah diamnya, dia sedang memulihkan diri, mematikan monster yang terlalu lama mengambil alih tubuhnya. Ia hanya butuh waktu untuk kembali, dan memelukmu dengan tubuhnya yang hangat. Ia hanya butuh jeda, untuk kembali menggariskan senyum di wajahnya.
Dan siapapun yang melihat seorang ibu tengah dirasuki monster di tubuhnya. Jangan hakimi dia. Jangan abaikan dia. Peluklah dengan erat. Karena ia hanya butuh kehangatan itu.
***

Komentar
Posting Komentar