📖 LIQO AHAD
1. Al-Qur'an adalah Petunjuk Hidup
Inilah keyakinan yang harus kita tanamkan dalam diri. Al-Qur'an bukan hanya untuk dibaca atau dihafalkan sebagai knowledge, tetapi harus menjadi panduan dalam seluruh dimensi kehidupan.
Ketika menghadapi persoalan hidup, kembalikan jawabannya kepada Al-Qur'an. Sayangnya, tidak banyak manusia yang benar-benar menjadikan Al-Qur'an sebagai guidance dalam menjalani kehidupan.
Mengapa demikian? Karena Al-Qur'an mustahil salah. Allah ﷻ sendiri yang menjaminnya.
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيٓ أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ
"Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia, penjelasan mengenai petunjuk itu, dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)."(QS. Al-Baqarah: 185)
Dalam memahami Al-Qur'an, para ulama menjelaskan bahwa ada empat tingkatan:
- Tingkatan yang hanya Allah ﷻ yang mengetahui hakikatnya, seperti makna huruf-huruf muqatha'ah (misalnya Alif Lam Mim).
- Tingkatan yang dipahami oleh para ulama melalui ilmu tafsir yang mendalam.
- Tingkatan yang dapat dipahami oleh orang yang menguasai bahasa Arab.
- Tingkatan yang dapat dipahami oleh seluruh manusia, yaitu pesan-pesan pokok tentang akidah, ibadah, akhlak, dan kehidupan.
Sekitar 80% kandungan Al-Qur'an berada pada tingkatan ketiga dan keempat. Ini menunjukkan bahwa Al-Qur'an memang diturunkan agar dapat dipelajari oleh seluruh manusia.
Karena itu, tugas kita adalah mentadaburi Al-Qur'an.
Allah ﷻ berfirman:
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
"Maka apakah mereka tidak mentadaburi Al-Qur'an, ataukah hati mereka sudah terkunci?"(QS. Muhammad: 24)
Mustahil Al-Qur'an tidak relevan dengan kehidupan kita. Rasulullah ﷺ bahkan mengadukan keadaan sebagian umatnya yang menjauh dari Al-Qur'an.
Allah ﷻ berfirman:
وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا
"Dan Rasul berkata, 'Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur'an ini sesuatu yang ditinggalkan.'"(QS. Al-Furqan: 30)
Mulailah membuat target sederhana: setiap hari memahami makna beberapa ayat Al-Qur'an. Dari sanalah hubungan kita dengan Al-Qur'an akan kembali hidup.
Keajaiban Al-Qur'an bahkan dapat dirasakan oleh orang yang belum memahami artinya. Tidak ada kitab lain yang selama lebih dari 1.400 tahun terus dibaca setiap hari oleh jutaan manusia dan dihafal oleh jutaan orang, termasuk anak-anak. Itulah salah satu bukti kemukjizatan Al-Qur'an.
2. Al-Qur'an Menjadi Petunjuk Ketika Kita Menggunakan Akal
Al-Qur'an adalah satu-satunya kitab suci yang diturunkan dari Allah ﷻ dan justru mengajak manusia untuk menggunakan akalnya.
Allah ﷻ berfirman:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ
"Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal."(QS. Ali 'Imran: 190)
Allah juga berfirman:
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا
"Maka tidakkah mereka mentadaburi Al-Qur'an? Sekiranya Al-Qur'an itu berasal dari selain Allah, niscaya mereka akan menemukan banyak pertentangan di dalamnya."(QS. An-Nisa: 82)
Al-Qur'an tidak melarang manusia berpikir. Sebaliknya, Al-Qur'an mendorong manusia untuk menggunakan akal, merenung, meneliti, dan mengambil pelajaran dari seluruh ciptaan Allah.
Dengan akal yang dipandu wahyu, seorang mukmin akan semakin yakin bahwa Al-Qur'an benar-benar merupakan firman Allah.
Kisah Abbas bin Firnas: Perintis Penerbangan
Pada abad ke-9 M, seorang ilmuwan muslim dari Cordoba, Andalusia, bernama Abbas bin Firnas dikenal sebagai salah satu pelopor eksperimen penerbangan. Ia merancang alat terbang dari rangka kayu, kain sutra, dan bulu burung, lalu melakukan percobaan dengan meluncur dari tempat yang tinggi. Meskipun pendaratannya belum sempurna, eksperimen tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah penerbangan.
Peradaban Islam pada masa itu juga mencapai kemajuan luar biasa dalam bidang astronomi, kedokteran, matematika, teknik, dan berbagai cabang ilmu pengetahuan lainnya.
Mengapa mereka bisa maju?
Karena mereka menjadikan Al-Qur'an sebagai petunjuk hidup. Interaksi mereka dengan Al-Qur'an tidak berhenti pada membaca, tetapi berlanjut pada berpikir, meneliti, mengamati alam, dan mengembangkan ilmu pengetahuan sebagai bentuk tadabur terhadap ayat-ayat Allah.
Lalu mengapa umat Islam mengalami kemunduran?
Di antaranya karena konflik internal, lemahnya semangat menuntut ilmu, serta banyaknya hal yang menyita perhatian sehingga manusia semakin jauh dari tadabur terhadap ayat-ayat Allah, baik yang tertulis dalam Al-Qur'an maupun yang terbentang di alam semesta.
Allah ﷻ berfirman:
سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ
"Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri sehingga jelas bagi mereka bahwa Al-Qur'an itu benar."(QS. Fushshilat: 53)
Penutup
Al-Qur'an diawali dengan surat pembuka, yaitu Al-Fatihah, tetapi tidak memiliki surat yang disebut sebagai "penutup". Sebagian ulama mengambil pelajaran bahwa perjalanan bersama Al-Qur'an tidak pernah benar-benar selesai.
Semakin sering kita membaca, mentadaburi, dan mengamalkannya, semakin banyak hikmah yang Allah bukakan.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang senantiasa berinteraksi dengan Al-Qur'an; membacanya, memahaminya, mentadaburinya, serta mengamalkannya dalam setiap aspek kehidupan.
اللهم اجعل القرآن ربيع قلوبنا، ونور صدورنا، وجلاء أحزاننا، وذهاب همومنا. آمين.

Komentar
Posting Komentar