Kajian Kitab : Karakteristik Wanita Muslimah karya Dr. Ali Muhammad Al Hasyimi-Ummi Aisyah-05 Juli 2026
Pernikahan adalah Ibadah Sepanjang Hayat
Pembahasan tentang hubungan suami istri adalah tema yang tidak pernah selesai. Selama seseorang masih menjalani kehidupan rumah tangga, selama itu pula ia akan terus belajar.
Setiap fase pernikahan memiliki tantangan yang berbeda. Tantangan ketika baru menikah tentu berbeda dengan saat telah memiliki anak, berbeda pula ketika anak-anak mulai dewasa hingga memasuki usia tua.
Karena itu, seorang muslimah tidak boleh merasa cukup belajar tentang hak dan kewajibannya sebagai seorang istri. Selama ia masih bernapas, selama itu pula ia memiliki amanah yang harus ditunaikan kepada Allah.
Jika pembahasan tentang diri sendiri memiliki titik jeda, atau pembahasan tentang birrul walidain sedikit banyak berubah setelah menikah, maka pembahasan tentang hubungan dengan suami justru menjadi perjalanan yang paling panjang dalam kehidupan seorang muslimah.
Tujuan Pernikahan adalah Mewujudkan Sakinah
Allah Ta'ala berfirman,
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antara kalian rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir."
(QS. Ar-Rum: 21)
Ketika mentadabburi ayat ini, kita akan bertanya:
Bagaimana mungkin dua orang yang sebelumnya asing, akhirnya menjadi teman hidup hingga akhir hayat?
Jika kita membaca ayat sebelum dan sesudahnya, ternyata Allah sedang menjelaskan berbagai tanda kebesaran-Nya dalam penciptaan alam semesta.
Di tengah penjelasan tentang langit, bumi, siang, malam, hujan, dan kehidupan, Allah menyebut pernikahan sebagai salah satu tanda kebesaran-Nya.
Artinya, rumah tangga bukan sekadar hubungan antara laki-laki dan perempuan, tetapi merupakan salah satu ayat (tanda kekuasaan) Allah.
Sakinah Adalah Prioritas
Dalam ayat tersebut Allah menyebut tujuan pertama pernikahan adalah:
لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا
"Agar kalian memperoleh ketenangan."
Maka seorang istri hendaknya menjadi sumber ketenangan bagi suaminya.
Bukan berarti suami tidak memiliki kewajiban yang sama. Justru keduanya diperintahkan untuk saling menghadirkan sakinah di dalam rumah tangga.
Pernikahan adalah Mitsaqan Ghalizha
Allah menyebut akad pernikahan sebagai:
مِيثَاقًا غَلِيظًا
"Perjanjian yang sangat kuat."
(QS. An-Nisa': 21)
Karena itu, pernikahan bukan sekadar akad sosial, tetapi ibadah yang agung.
Memilih Suami adalah Langkah Pertama Seorang Muslimah
Islam memberikan hak kepada perempuan untuk memilih pasangan hidupnya.
Ia berhak mengatakan "ya" ataupun "tidak."
Tidak boleh seorang ayah memaksa anak gadisnya menikah dengan laki-laki yang tidak ia ridai.
Yang pertama kali harus diperhatikan bukanlah cinta. Bukan pula ketampanan. Bukan kekayaan. Bukan kedudukan. Namun agama dan akhlaknya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا أَتَاكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوهُ، إِلَّا تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيضٌ
"Apabila datang kepada kalian seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia. Jika tidak kalian lakukan, akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar." (HR. Tirmidzi)
Hanya laki-laki yang bertakwa yang akan mampu menunaikan hak-hak istrinya dengan baik.
Kisah Ummu Sulaim dan Abu Thalhah
Salah satu teladan terbaik dalam memilih pasangan adalah kisah Ummu Sulaim radhiyallahu 'anha.
Abu Thalhah adalah lelaki yang tampan, terpandang, dan sangat kaya. Semua hal yang diinginkan banyak perempuan ada padanya.
Namun Ummu Sulaim menolak lamarannya. Bukan karena kurang harta. Bukan karena kurang kedudukan. Tetapi karena Abu Thalhah saat itu masih kafir.
Beliau berkata bahwa jika Abu Thalhah masuk Islam, maka keislamannya itulah yang menjadi maharnya.
Akhirnya Abu Thalhah menerima Islam, dan itulah mahar yang paling mulia dalam sejarah pernikahan.
Kisah ini mengajarkan bahwa agama jauh lebih berharga daripada seluruh kemewahan dunia.
Memahami Kejiwaan Suami
Setelah menikah, tugas seorang istri bukan hanya memenuhi kebutuhan rumah tangga. Ia juga belajar memahami kondisi jiwa suaminya.
Seiring bertambahnya usia, bertambah pula tanggung jawab seorang laki-laki. Beban pekerjaan. Nafkah. Anak-anak. Orang tua. Semuanya memengaruhi kondisi psikologisnya.
Karena itu, suami dan istri harus saling menjadi tempat kembali dan saling memahami keadaan masing-masing.
Perasaan Harus Dipimpin oleh Iman
Perempuan memiliki perasaan yang lebih dominan. Ini adalah kelebihan. Namun kelebihan tersebut harus dipimpin oleh iman. Karena imanlah yang akan mengendalikan perasaan.
Istri harus menyadari bahwa suami yang ia nikahi adalah manusia biasa yang memiliki kelebihan dan kekurangan.
Hak Suami Sangat Besar
Rasulullah ﷺ bersabda,
لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا لِعِظَمِ حَقِّهِ عَلَيْهَا
"Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang bersujud kepada selain Allah, niscaya aku akan memerintahkan seorang istri untuk bersujud kepada suaminya karena begitu besarnya hak suami atas dirinya." (HR. Tirmidzi)
Tentu sujud kepada selain Allah tetap haram. Hadits ini menunjukkan betapa besar hak suami yang harus dijaga oleh seorang istri.
Rasulullah ﷺ juga bersabda,
أَعْظَمُ النَّاسِ حَقًّا عَلَى الْمَرْأَةِ زَوْجُهَا
"Orang yang paling besar haknya atas seorang wanita adalah suaminya."
(HR. Al-Hakim, hasan)
Karena itu, tujuan seorang istri setelah menikah adalah berusaha meraih ridha Allah melalui keridhaan suaminya selama tidak dalam kemaksiatan.
Rumah Tangga Dibangun dengan Akhlak
Hubungan suami istri tidak cukup dibangun dengan cinta. Yang mempertahankan rumah tangga adalah akhlak. Cara berbicara. Cara meminta izin. Cara menghormati. Cara memaafkan. Cara menjaga kehormatan pasangan.
Semuanya adalah bagian dari akhlak seorang muslimah.
Perempuan adalah Pengatur Rumah Tangga
Allah memberikan amanah besar kepada seorang istri untuk mengelola rumah tangga. Kasih sayang kepada anak-anak. Perhatian kepada suami. Menjaga suasana rumah. Semuanya merupakan amal saleh yang sangat besar nilainya di sisi Allah.
Sebagaimana disebutkan oleh para ulama:
Kasih sayangmu kepada anak-anak dan perhatianmu kepada suamimu adalah make-up terindah yang menghiasi seorang muslimah.
Wanita Terbaik adalah yang Taat kepada Allah dan Suaminya
Rasulullah ﷺ bersabda,
إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا، قِيلَ لَهَا: ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ
"Apabila seorang wanita menjaga shalat lima waktunya, berpuasa Ramadhan, menjaga kehormatannya, dan menaati suaminya (dalam perkara yang ma'ruf), maka akan dikatakan kepadanya: 'Masuklah ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau kehendaki.'" (HR. Ahmad, Ibnu Hibban)
Hadits ini menunjukkan betapa besar kemuliaan seorang istri yang mampu menunaikan hak-hak Allah sekaligus hak suaminya. Menjadi seorang istri muslimah bukanlah tentang menjadi wanita yang sempurna, tetapi tentang menjadi hamba yang terus belajar menaati Allah dalam setiap perannya.

Komentar
Posting Komentar