Langsung ke konten utama

Wanita Muslimah bersama Suaminya (Part 2)

 Kajian Kitab : Karakteristik Wanita Muslimah
Karya Dr. Ali Muhammad Al Hasyimi

-Umi Aisyah-

19.07.26



Taatilah Suamimu dan Jadilah Wanita yang Memiliki Banyak Kebaikan

Ketaatan seorang istri kepada suaminya bukanlah bentuk ketidakadilan terhadap perempuan. Justru syariat Islam menempatkan laki-laki dan perempuan pada peran yang saling melengkapi sesuai fitrahnya.

Allah menjadikan laki-laki sebagai qawwām (pemimpin, pelindung, dan penanggung jawab keluarga), sedangkan wanita diberi kemuliaan dengan sifat qanitat, yaitu taat kepada Allah serta menjaga amanah yang Allah titipkan dalam rumah tangga.

Allah Ta'ala berfirman,

"Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain dan karena mereka telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Maka wanita-wanita yang shalihah adalah wanita yang taat dan menjaga diri ketika suaminya tidak ada karena Allah telah menjaganya."

(QS. An-Nisa: 34)

Ayat ini bukan menunjukkan superioritas laki-laki, tetapi menunjukkan keadilan Allah. Laki-laki dibebani tanggung jawab yang besar sebagai pemimpin, pencari nafkah, pelindung, dan pembimbing keluarga. Sebaliknya, wanita dimuliakan dengan ketaatan dan penjagaan terhadap rumah tangga.

Karena itu, seorang muslimah perlu terus mendidik dirinya agar mampu berkata kepada hawa nafsunya:

"Taat kepada suami adalah bagian dari ibadahku kepada Allah."

Hari ini banyak pemikiran yang memandang ketaatan kepada suami sebagai bentuk penindasan terhadap perempuan. Padahal Islam justru memuliakan wanita dengan jalan yang mengantarkannya menuju surga.

Apa saja kebaikan yang harus dimiliki seorang istri?

1. Taat kepada suami adalah salah satu jalan termudah menuju surga.

Rasulullah ﷺ bersabda,

"Apabila seorang wanita menjaga shalat lima waktunya, berpuasa Ramadhan, menjaga kehormatannya, dan menaati suaminya, maka dikatakan kepadanya: 'Masuklah ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau kehendaki.'"

(HR. Ahmad no. 1661, dinyatakan shahih oleh Al-Albani)

Perhatikan bahwa Rasulullah ﷺ menyebut empat amalan besar:

  • menjaga shalat,
  • berpuasa Ramadhan,
  • menjaga kehormatan,
  • menaati suami.

Ketika iman semakin kuat, maka emosi akan lebih mudah dikendalikan. Sebaliknya, lemahnya iman sering kali membuat hawa nafsu lebih mudah menguasai hati.


2. Ridha suami menjadi sebab seorang istri masuk surga.

Rasulullah ﷺ bersabda,

"Wanita mana saja yang meninggal dunia dalam keadaan suaminya ridha kepadanya, maka ia akan masuk surga."

(HR. Tirmidzi no. 1161, hasan)

Karena itu, seorang istri hendaknya selalu berusaha menjaga keridhaan suaminya selama tidak dalam kemaksiatan kepada Allah.

Namun Islam juga tidak hanya menuntut istri.

Rasulullah ﷺ bersabda,

"Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada istrinya."

(HR. Tirmidzi no. 1162)

Artinya, sebagaimana istri diperintahkan mencari ridha suami, suami pun diperintahkan untuk berakhlak mulia, lembut, penyayang, dan mudah memaafkan istrinya.


3. Wanita penghuni surga memiliki kasih sayang yang besar.

Rasulullah ﷺ bersabda,

"Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang istri-istri penghuni surga? Yaitu wanita yang penyayang, subur, dan apabila ia marah, disakiti, atau suaminya marah kepadanya, ia berkata: 'Inilah tanganku berada di tanganmu. Aku tidak akan memejamkan mata hingga engkau ridha.'"

(HR. Ath-Thabrani, dinilai hasan oleh sebagian ulama)

Hadits ini menunjukkan bahwa wanita shalihah tidak membiarkan konflik berlarut-larut. Ia berusaha meminta maaf, memperbaiki keadaan, dan mendahulukan perdamaian dibanding mempertahankan ego.


4. Ketaatan kepada suami juga mencakup hubungan suami istri.

Rasulullah ﷺ bersabda,

"Apabila seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidur lalu ia menolak sehingga suaminya bermalam dalam keadaan marah kepadanya, maka para malaikat melaknatnya hingga pagi."

(HR. Bukhari dan Muslim)

Pembahasan ini sering kali terasa sensitif. Namun Islam mengajarkannya secara proporsional.

Hubungan suami istri merupakan hak masing-masing pasangan dan menjadi salah satu cara menjaga kehormatan, menundukkan pandangan, serta melindungi keduanya dari fitnah zina.

Tentu kewajiban ini berlaku selama tidak ada uzur syar'i seperti haid, nifas, sakit, atau kondisi yang memang menghalangi.


5. Menjaga amanah rumah tangga.

Rasulullah ﷺ bersabda,

"Tidak halal bagi seorang wanita berpuasa (sunnah) sementara suaminya hadir kecuali dengan izinnya. Dan tidak boleh mengizinkan seseorang masuk ke rumahnya kecuali dengan izin suaminya."

(HR. Bukhari dan Muslim)

Rumah tangga memiliki aturan dan amanah. Seorang istri hendaknya menghindari segala sesuatu yang dapat membuat suaminya tidak ridha.

Rasulullah ﷺ juga bersabda,

"Ada tiga golongan yang shalatnya tidak melewati kepala mereka sejengkal pun... di antaranya seorang wanita yang bermalam sementara suaminya murka kepadanya."

(HR. Ibnu Majah dan Ath-Thabrani)

Hadits ini menjadi peringatan agar seorang istri tidak meremehkan keridhaan suami, sebagaimana suami juga diperintahkan untuk tidak berlaku zalim kepada istrinya.


Suami dan Anakmu Lebih Berhak atas Sedekahmu

Suatu hari Zainab, istri Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhuma, datang bertanya kepada Rasulullah ﷺ apakah ia boleh memberikan sedekah kepada suaminya yang miskin dan anak-anaknya.

Beliau menjawab,

"Ya, baginya dua pahala: pahala menyambung kekerabatan dan pahala sedekah."

(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa membantu suami dan anak-anak yang membutuhkan termasuk amal yang sangat besar pahalanya.


Sedekah menjadi tameng bagi wanita dari api neraka.

Rasulullah ﷺ bersabda,

"Wahai para wanita, bersedekahlah dan perbanyaklah istighfar, karena aku melihat kebanyakan penghuni neraka adalah kaum wanita."

(HR. Muslim)

Dalam banyak hadits, Rasulullah ﷺ sering mengarahkan kaum wanita untuk memperbanyak sedekah. Ini menjadi isyarat bahwa sedekah merupakan salah satu sebab keselamatan dari api neraka dan penghapus dosa.

Harta yang dimiliki seorang muslimah bukan hanya untuk dinikmati, tetapi juga menjadi jalan mendekatkan diri kepada Allah.


Kisah Asma' binti 'Umais

Dikisahkan bahwa Ali bin Abi Thalib pernah bertanya kepada Asma' binti 'Umais mengenai siapa yang paling utama di antara para wanita.

Dengan jawaban yang penuh hikmah, Asma' mampu memberikan penghargaan kepada semua tanpa merendahkan yang lain. Jawaban yang bijaksana itu membuat Ali ridha kepadanya.

Pelajaran yang dapat diambil adalah bahwa seorang wanita hendaknya memiliki kecerdasan dalam berbicara, menjaga perasaan orang lain, dan memilih kalimat yang membawa kedamaian.


Wasiat Ummamah binti Al-Harits kepada Putrinya

Bangsa Arab dahulu memiliki tradisi memberikan nasihat kepada putri mereka sebelum menikah. Salah satu wasiat yang paling masyhur adalah wasiat Ummamah binti Al-Harits kepada putrinya ketika hendak menikah dengan Al-Harits bin 'Amr Al-Kindi.

Beliau mengingatkan bahwa seorang wanita sedang memasuki kehidupan baru bersama seorang laki-laki yang sebelumnya asing baginya. Oleh karena itu, ia perlu mempersiapkan akhlak terbaiknya.

Beliau kemudian memberikan sepuluh wasiat yang menjadi pedoman membangun rumah tangga.

Sepuluh Wasiat Ummamah binti Al-Harits

  1. Ridhalah terhadap pemberian suamimu (qana'ah).
  2. Dengarkan perkataannya dan taatilah selama bukan dalam maksiat.
  3. Jagalah penampilanmu agar selalu menyenangkan pandangannya.
  4. Jagalah kebersihan dan keharuman tubuhmu agar ia senang berada di dekatmu.
  5. Perhatikan waktu makan suamimu, karena rasa lapar dapat memicu emosi.
  6. Jagalah waktu istirahat dan tidurnya agar ia merasa nyaman.
  7. Peliharalah hubungan baik dengan keluarga dan kerabatnya.
  8. Jagalah harta dan amanah yang ia titipkan kepadamu.
  9. Jangan membuka rahasia suamimu kepada siapa pun.
  10. Jangan menyelisihi perintahnya dalam perkara yang ma'ruf.

Beliau juga berpesan,

"Janganlah engkau menampakkan kegembiraan ketika suamimu sedang bersedih, dan jangan pula bermuram durja ketika ia sedang bergembira. Dahulukan keridhaannya daripada keinginanmu sendiri selama bukan dalam kemaksiatan kepada Allah."

Nasihat ini mengajarkan pentingnya empati, menjaga perasaan pasangan, serta mendahulukan keharmonisan rumah tangga.

Di akhir kisah disebutkan bahwa putri Ummamah menjalankan seluruh nasihat tersebut. Ia menjadi wanita yang sangat dimuliakan oleh suaminya dan melahirkan keturunan yang kelak menjadi para pemimpin.

Hal ini menunjukkan bahwa rumah tangga yang dibangun di atas akhlak, ketaatan kepada Allah, serta saling memuliakan akan melahirkan generasi yang baik.

Penutup

Menjadi wanita shalihah bukanlah tentang siapa yang paling banyak menuntut haknya, tetapi siapa yang paling bersungguh-sungguh menunaikan kewajibannya karena Allah. Ketaatan kepada suami bukanlah tujuan akhir, melainkan jalan untuk meraih ridha Allah Ta'ala.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk wanita-wanita shalihah yang menjaga shalat, menjaga kehormatan, memuliakan suami, berbakti kepada keluarganya, memperbanyak sedekah, serta menghiasi rumah tangga dengan kelembutan, kasih sayang, dan akhlak yang mulia. Aamiin.


***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cappuccino : Tentang Cinta yang Tak Selalu Manis

  Pernah mencintai diam-diam? Pernah menunggu seseorang yang tak pernah kembali? Atau… pernah merasakan cinta yang datang terlalu terlambat? Buku Cappuccino adalah kumpulan cerita pendek yang akan membawa kamu menyusuri berbagai rasa dalam cinta— dari yang manis, pahit, hingga yang akhirnya… harus dilepaskan. Di dalamnya, kamu akan menemukan kisah-kisah seperti: cinta diam-diam yang berakhir dengan senyuman terakhir perasaan yang tak pernah terbalas hubungan yang melelahkan hingga cinta yang… “kedaluwarsa” dimakan waktu  Setiap cerita ditulis dengan bahasa yang sederhana, tapi penuh perasaan— seolah kamu sedang membaca potongan hidupmu sendiri. 💔 Kenapa buku ini wajib kamu punya? ✨ Relatable banget (banyak yang bilang: “ini gue banget…”) 📖 Cocok dibaca santai tapi tetap ngena ☕ Setiap cerita seperti secangkir cappuccino: ada pahit, ada manis 🫶 Bisa jadi teman di saat kamu lagi overthinking soal cinta 🎯 Cocok untuk kamu yang: Lagi jatuh cinta diam-diam Sedang move on Pernah...

Indah karena Ta'at

  Indah karena Taat - Ummi Aisyah- 31 Mei 2026 Tantangan Muslimah di Zaman Media Sosial Kondisi muslimah hari ini, bahkan manusia secara umum, hampir tidak bisa lepas dari media sosial. Memiliki gadget sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Karena itu, tantangan terbesar kita bukan lagi kurangnya akses terhadap ilmu. Dengan mudah kita dapat mendengarkan kajian, membaca artikel, dan belajar dari berbagai sumber hanya melalui gadget yang ada di tangan kita. Namun di sisi lain, media sosial juga membuat kita mudah terbawa arus tren dan sesuatu yang sedang viral. Tantangan terbesar seorang muslimah di zaman ini adalah menjaga hati agar tetap istiqamah di tengah begitu banyak distraksi dan kebisingan dunia. Lebih dari itu, sering kali tanpa sadar media sosial menjadi panduan hidup kita, menggantikan Al-Qur'an dan Sunnah sebagai standar. Akibatnya, banyak orang mengalami krisis identitas. Arus pemikiran dan gaya hidup yang bertentangan dengan Islam begitu kuat, sementara li...

Wanita Muslimah bersama Orang Tuanya

Kajian Kitab : Karakteristik Wanita Muslimah  karya Dr. Ali Muhammad Al Hasyimi -Ummi Aisyah- 14 Juni 2026 Di zaman ini, perempuan memiliki peran yang sangat penting dalam membangun generasi. Dari tangan para ibu lahir pemimpin, ulama, pendidik, dan generasi yang akan menentukan masa depan umat dan bangsa. Karena itu, ketika melihat berbagai permasalahan yang terjadi di negeri ini, jangan hanya sibuk menyalahkan keadaan. Jangan sampai kemarahan terhadap kondisi umat membuat kita lupa memperbaiki lingkungan terdekat yang Allah amanahkan kepada kita. Lakukanlah perubahan sekecil apa pun yang mampu kita lakukan. Sebagaimana kisah semut yang membawa setetes air untuk membantu memadamkan api yang membakar Nabi Ibrahim 'alaihissalam. Meskipun kecil, ia ingin berada di pihak kebenaran. Maka seorang muslimah dapat berkontribusi memperbaiki negeri ini dengan memperbaiki dirinya, keluarganya, anak-anaknya, dan hubungannya dengan kedua orang tuanya. Mengapa Kita Harus Mengulang Pembaha...