Liqo Ahad — Masjid Jaza, 23 Agustus 2026
Pemateri : Ust. Fitrian Kadir
Umat ini akan maju apabila setiap individu di dalamnya mau belajar. Karena itu, setiap Muslim perlu memiliki kesungguhan untuk terus menuntut ilmu. Allah-lah yang memberikan ilmu, sedangkan belajar merupakan bagian dari ikhtiar kita untuk menunjukkan bahwa kita benar-benar serius dalam menjalankan ketakwaan kepada-Nya.
Belajar bukan sekadar aktivitas untuk menambah pengetahuan. Belajar adalah bagian dari kesungguhan kita dalam beragama. Semakin seseorang mengenal Allah, semakin ia memahami Al-Qur'an, dan semakin ia memahami tujuan hidupnya, seharusnya semakin baik pula amal dan akhlaknya.
Kesempurnaan Susunan Al-Qur'an
Al-Qur'an adalah kitab yang sempurna. Kesempurnaan itu bukan hanya terdapat pada kandungan ayatnya, tetapi juga pada pilihan kata, susunan kalimat, hubungan antarayat, bahkan hubungan antara satu surat dengan surat lainnya.
Al-Qur'an diturunkan kepada masyarakat Arab yang memiliki kemampuan sastra yang sangat tinggi. Mereka sangat tajam dalam menilai bahasa dan keindahan syair. Namun, tidak seorang pun yang mampu menghadirkan sesuatu yang sebanding dengan Al-Qur'an.
Allah berfirman:
قُلْ لَّئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَىٰٓ أَن يَأْتُوا۟ بِمِثْلِ هَٰذَا الْقُرْءَانِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِۦ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍۢ ظَهِيرًا
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan Al-Qur’an ini, mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun mereka saling membantu satu sama lain.’”
QS. Al-Isra’ [17]: 88
Para ulama memiliki perbedaan pendapat mengenai apakah urutan surat dalam mushaf merupakan ketetapan dari Allah dan Rasul-Nya atau terdapat bagian yang merupakan hasil ijtihad para sahabat. Namun, Al-Qur'an memiliki dua sisi urutan yang sama-sama penting untuk dikaji: urutan mushaf, sebagaimana yang kita baca dari Al-Fatihah hingga An-Nas, dan urutan kronologis turunnya wahyu.
Keduanya memberikan sisi kemukjizatan yang berbeda. Mayoritas kitab tafsir disusun mengikuti urutan mushaf, meskipun terdapat pula sebagian karya ulama yang mencoba mengkaji Al-Qur'an berdasarkan urutan turunnya.
Dalam urutan mushaf, kita dapat menemukan hubungan dan keterkaitan antara satu surat dengan surat lainnya. Kajian mengenai keterkaitan tersebut dikenal dengan istilah munasabah, yaitu hubungan atau keserasian antara ayat dengan ayat dan surat dengan surat.
Karena itu, ketika kita membaca QS. Al-'Ashr, menarik untuk memperhatikan surat-surat yang berada sebelumnya.
Dari Ukuran Amal hingga Kerugian Manusia
Sebelum QS. Al-'Ashr, terdapat QS. At-Takatsur, kemudian Al-Qari'ah, Al-'Adiyat, dan Az-Zalzalah. Jika diperhatikan, terdapat rangkaian pesan yang sangat kuat tentang amal manusia, kehidupan dunia, dan apa yang akan dihadapi manusia setelah kematian.
Dalam QS. Az-Zalzalah, Allah mengingatkan bahwa tidak ada amal yang benar-benar kecil di hadapan-Nya.
Allah berfirman:
فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُۥ وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُۥ
“Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya.”
QS. Az-Zalzalah [99]: 7–8
Artinya, Allah memperhatikan amal kita sekecil apa pun. Ada amal yang terlihat besar dan dirasakan banyak orang, tetapi ada pula amal yang tampaknya sangat sederhana namun memiliki nilai besar di sisi Allah.
Senyum kepada orang lain, misalnya, mungkin terlihat sebagai sesuatu yang sepele. Namun, bisa jadi amal kecil yang bahkan tidak kita sadari justru menjadi sebab datangnya kebaikan dan pahala.
Kemudian dalam QS. Al-'Adiyat, Allah mengingatkan bahwa kelak apa yang tersembunyi di dalam diri manusia akan dibongkar.
Allah berfirman:
وَحُصِّلَ مَا فِي الصُّدُورِ
“Dan ditampakkan apa yang ada di dalam dada.”
QS. Al-'Adiyat [100]: 10
Ini menunjukkan bahwa yang akan diperhitungkan bukan hanya amal yang tampak secara lahiriah, tetapi juga apa yang tersimpan di dalam hati.
Allah juga menyebut salah satu sifat manusia:
وَإِنَّهُۥ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ
“Dan sesungguhnya dia sangat kuat cintanya kepada harta.” QS. Al-'Adiyat [100]: 8
Kata al-khair dalam ayat ini bermakna harta, tetapi manusia memang memiliki kecenderungan untuk mencintai sesuatu yang dianggap baik dan menguntungkan bagi dirinya. Manusia memiliki dorongan untuk memperoleh sesuatu yang lebih baik. Dorongan tersebut sebenarnya dapat menjadi sesuatu yang positif apabila diarahkan kepada kebaikan. Namun, ia dapat berubah menjadi masalah ketika membuat manusia melupakan tujuan hidupnya.
Kemudian QS. Al-Qari'ah mengingatkan kita tentang timbangan amal.
Allah berfirman:
فَأَمَّا مَن ثَقُلَتْ مَوَٰزِينُهُۥ فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَّاضِيَةٍۢ
“Adapun orang yang berat timbangan (kebaikan)-nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan (menyenangkan).” (QS. Al-Qari'ah [101]: 6–7)
Setelah itu, QS. At-Takatsur mengingatkan manusia tentang penyakit mengejar kuantitas dunia.
Allah berfirman:
أَلْهَىٰكُمُ ٱلتَّكَاثُرُ
“Bermegah-megahan dalam memperbanyak (dunia) telah melalaikan kamu.” (QS. At-Takatsur [102]: 1)
Manusia sering kali sibuk menghitung apa yang dimiliki: harta, pencapaian, kedudukan, pengikut, rumah, kendaraan, dan berbagai bentuk kesuksesan dunia lainnya. Padahal, semakin banyak yang kita kejar belum tentu semakin dekat kita kepada Allah.
Di sinilah QS. Al-'Ashr memberikan teguran yang sangat kuat. Surat ini seakan mengajak kita berhenti sejenak dan memperbaiki cara pandang kita terhadap kehidupan.
Demi Masa
Allah berfirman:
وَٱلْعَصْرِ
“Demi masa.” (QS. Al-'Ashr [103]: 1)
Allah berhak bersumpah dengan apa pun dari makhluk-Nya. Ketika Allah bersumpah dengan sesuatu, hal tersebut menunjukkan betapa pentingnya sesuatu itu untuk diperhatikan.
Allah bersumpah dengan al-'ashr, yaitu masa atau waktu.
Waktu adalah salah satu aset paling mahal yang dimiliki manusia. Harta yang hilang masih mungkin dicari kembali. Kesempatan yang hilang terkadang masih bisa digantikan. Tetapi waktu yang telah berlalu tidak akan pernah kembali.
Karena itu, kehidupan modern menjadi tantangan tersendiri. Banyak hal dirancang untuk merebut perhatian manusia dan membuatnya menghabiskan waktu tanpa sadar. Kita dapat menghabiskan berjam-jam untuk sesuatu yang sebenarnya tidak memberikan manfaat berarti.
Kata al-'ashr juga memiliki makna yang berkaitan dengan sesuatu yang diperas atau dikeluarkan sedikit demi sedikit. Ia juga berkaitan dengan waktu sore, yaitu waktu menjelang berakhirnya siang. Seakan-akan ada gambaran bahwa waktu manusia terus berkurang sedikit demi sedikit hingga akhirnya habis.
Semakin bertambah usia kita, semakin sedikit waktu yang tersisa. Karena itu, pertambahan umur seharusnya bukan hanya membuat kita bertambah pengalaman, tetapi juga membuat kita semakin matang dalam berpikir dan semakin dekat kepada Allah.
Namun, manusia sering mengalami hal sebaliknya. Ada sifat-sifat baik yang justru semakin berkurang ketika usia bertambah.
Allah kemudian melanjutkan sumpah-Nya:
إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ لَفِي خُسْرٍ
“Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian.” (QS. Al-'Ashr [103]: 2)
Perhatikan bahwa Allah menggunakan penekanan yang sangat kuat: إِنَّ dan لَفِي. Seakan-akan Allah benar-benar ingin membuat kita berhenti dan memperhatikan ayat ini.
Manusia secara umum berada dalam kerugian.
Pertanyaannya: Mengapa manusia rugi?
Kerugian Pertama: Lupa Siapa Dirinya
Salah satu kerugian manusia adalah ketika ia lupa dari mana ia berasal.
Al-Qur'an berkali-kali mengingatkan manusia tentang asal penciptaannya. Manusia berasal dari tanah, kemudian melalui berbagai tahapan penciptaan yang Allah jelaskan dalam Al-Qur'an.
Allah berfirman:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ مِن سُلَٰلَةٍ مِّن طِينٍ
“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari sari pati (yang berasal) dari tanah.” (QS. Al-Mu'minun [23]: 12)
Dalam ayat lain Allah berfirman:
خَلَقَ ٱلْإِنسَٰنَ مِن صَلْصَٰلٍ كَٱلْفَخَّارِ
“Dia menciptakan manusia dari tanah liat kering seperti tembikar.” (QS. Ar-Rahman [55]: 14)
Iblis pernah memprotes perintah Allah karena merasa dirinya lebih baik daripada manusia. Ia berkata:
أَنَا۠ خَيْرٌ مِّنْهُ ۖ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍۢ وَخَلَقْتَهُۥ مِن طِينٍۢ
“Aku lebih baik daripadanya. Engkau menciptakanku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS. Al-A'raf [7]: 12)
Kesombongan Iblis bermula dari cara pandang yang keliru terhadap asal penciptaan.
Manusia pun dapat terjebak dalam penyakit yang sama. Kita memiliki obsesi untuk menjadi lebih tinggi, lebih hebat, lebih sukses, lebih kaya, lebih dihargai, hingga akhirnya lupa bahwa pada hakikatnya kita hanyalah makhluk yang diciptakan oleh Allah dan akan kembali kepada-Nya.
Jangan sampai keinginan untuk menjadi “lebih baik” justru membuat kita lupa kepada siapa diri kita sebenarnya.
Ada nasihat yang sangat penting:
Jangan melihat kecilnya dosa, tetapi lihatlah kepada siapa kita bermaksiat.
Ketika kita memahami siapa Allah dan memahami betapa lemahnya diri kita, kita akan lebih berhati-hati dalam menjalani kehidupan.
Mengetahui asal penciptaan kita akan membantu kita memahami tujuan hidup kita.
Manusia Diciptakan dalam Keadaan Lemah
Allah secara terang-terangan menyebut manusia sebagai makhluk yang lemah.
Allah berfirman:
يُرِيدُ ٱللَّهُ أَن يُخَفِّفَ عَنكُمْ ۚ وَخُلِقَ ٱلْإِنسَٰنُ ضَعِيفًا
“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, karena manusia diciptakan (bersifat) lemah.” (QS. An-Nisa' [4]: 28)
Ayat ini berada dalam rangkaian pembahasan mengenai aturan dan batasan dalam kehidupan manusia, termasuk perkara pernikahan. Allah memberikan syariat bukan untuk mempersulit manusia, tetapi justru untuk memberikan keringanan kepada makhluk yang memiliki keterbatasan.
Syariat hadir untuk membantu manusia menjalani kehidupan dengan benar.
Kita sering menganggap aturan agama sebagai beban, padahal banyak aturan Allah justru merupakan bentuk kasih sayang-Nya kepada manusia yang lemah.
Manusia Juga Memiliki Sifat Suka Berkeluh Kesah
Selain lemah, manusia juga memiliki kecenderungan untuk berkeluh kesah.
Allah berfirman:
إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ خُلِقَ هَلُوعًا إِذَا مَسَّهُ ٱلشَّرُّ جَزُوعًا وَإِذَا مَسَّهُ ٱلْخَيْرُ مَنُوعًا
“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat suka mengeluh. Apabila ditimpa kesusahan, dia berkeluh kesah. Dan apabila mendapat kebaikan, dia menjadi kikir.” (QS. Al-Ma'arij [70]: 19–21)
Inilah salah satu sifat asli manusia. Ketika mendapatkan kesulitan, ia mudah mengeluh. Ketika mendapatkan kebaikan, ia cenderung menahannya untuk dirinya sendiri.
Namun, Allah tidak membiarkan manusia begitu saja.
Allah memberikan jalan keluarnya:
إِلَّا ٱلْمُصَلِّينَ
“Kecuali orang-orang yang melaksanakan salat.” (QS. Al-Ma'arij [70]: 22)
Kemudian Allah menjelaskan karakter mereka:
ٱلَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ
“Mereka yang tetap setia melaksanakan salatnya.” (QS. Al-Ma'arij [70]: 23)
Seakan-akan Allah menunjukkan bahwa manusia memang memiliki kelemahan dan kecenderungan buruk. Tetapi manusia dapat menjadi mulia ketika ia mau melawan kecenderungan tersebut dengan iman, ilmu, ibadah, dan ketaatan.
Lalu, Bagaimana Agar Kita Tidak Menjadi Orang yang Rugi?
Inilah inti QS. Al-'Ashr.
Allah berfirman:
وَٱلْعَصْرِ إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْحَقِّ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan kebajikan, serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al-'Ashr [103]: 1–3)
Allah memberikan empat karakter agar manusia selamat dari kerugian:
Pertama, iman.
Kita harus membangun hubungan yang benar dengan Allah dan meyakini seluruh perkara yang Allah kabarkan.
Kedua, amal saleh.
Iman tidak berhenti pada keyakinan dalam hati, tetapi harus melahirkan amal nyata.
Ketiga, saling menasihati dalam kebenaran.
Kita tidak boleh hanya memperbaiki diri sendiri. Kita juga memiliki tanggung jawab untuk saling mengingatkan dalam kebaikan.
Keempat, saling menasihati dalam kesabaran.
Menjalani kebenaran membutuhkan kesabaran. Belajar membutuhkan kesabaran. Beramal membutuhkan kesabaran. Meninggalkan maksiat juga membutuhkan kesabaran.
Dengan demikian, QS. Al-'Ashr mengajarkan kepada kita bahwa waktu yang terus berjalan tidak boleh dibiarkan berlalu tanpa makna.
Kita semua sedang kehilangan waktu sedikit demi sedikit. Usia terus berkurang. Karena itu, pertanyaan terpenting bukanlah “Berapa banyak yang sudah kita miliki?”, tetapi “Apa yang sudah kita lakukan dengan waktu yang Allah berikan?”
Jangan sampai kita sibuk mengejar banyaknya dunia sebagaimana peringatan dalam QS. At-Takatsur, tetapi lupa bahwa pada akhirnya seluruh amal akan ditimbang sebagaimana dalam QS. Al-Qari'ah, seluruh amal sekecil apa pun akan diperlihatkan sebagaimana dalam QS. Az-Zalzalah, bahkan apa yang tersembunyi di dalam hati pun akan dibongkar sebagaimana dalam QS. Al-'Adiyat.
Pada akhirnya, QS. Al-'Ashr datang untuk menyadarkan kita: waktu sedang berjalan, dan manusia sedang berada dalam kerugian.
Namun kerugian itu dapat dihindari dengan iman, amal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.
Maka selama Allah masih memberikan waktu, jangan sia-siakan kesempatan untuk belajar, memperbaiki diri, memperbaiki amal, dan semakin mengenal Allah.
Karena setiap detik yang berlalu tidak akan pernah kembali.

Komentar
Posting Komentar