Langsung ke konten utama

Wanita Muslimah bersama Suaminya (Part 3)

 


Kajian Kitab Karakteristik Wanita Muslimah

Bab: Wanita Muslimah Bersama Suaminya

- Umi Aisyah -

Ahad, 2 Agustus 2026


Muliakanlah Keluarga Suami dan Berbaktilah kepada Ibunya

Salah satu bentuk kebaikan seorang istri adalah membantu suaminya berbakti kepada kedua orang tuanya, terutama kepada ibunya. Dalam Islam, ibu memiliki kedudukan yang sangat tinggi di hati seorang anak laki-laki.

Rasulullah ﷺ bersabda ketika ditanya siapa orang yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik,

"Ibumu."

Lalu beliau ditanya lagi, "Kemudian siapa?"

Beliau menjawab, "Ibumu."

Ditanya lagi, "Kemudian siapa?"

Beliau menjawab, "Ibumu."

Kemudian beliau berkata, "Lalu ayahmu."

(HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)

Hadits ini menunjukkan bahwa kedudukan seorang ibu sangatlah agung. Karena itu, seorang istri tidak boleh merasa tersaingi oleh kasih sayang suaminya kepada ibunya.

Sering kali permasalahan antara menantu dan mertua bukan semata-mata karena salah satu pihak sepenuhnya benar atau salah. Yang terjadi adalah dua perempuan dengan latar belakang, cara berpikir, dan ego yang berbeda bertemu dalam satu keluarga.

Oleh sebab itu, sebelum menikah pun seorang wanita hendaknya memperhatikan bagaimana hubungan seorang laki-laki dengan ibunya. Sebab, dalam banyak hal, seorang laki-laki adalah hasil didikan ibunya.

Membantu suami berbakti kepada orang tuanya merupakan salah satu bentuk bakti seorang istri kepada suaminya. Jangan sampai karena pernikahan, justru hubungan seorang anak dengan ibunya menjadi renggang.

Allah Ta'ala berfirman,

"Dan bergaullah dengan mereka (para istri) secara patut."

(QS. An-Nisa: 19)

Ayat ini mengajarkan agar kehidupan rumah tangga dibangun dengan akhlak yang baik, termasuk menjaga hubungan dengan keluarga masing-masing.

Bersabar dalam Menghadapi Mertua

Tidak semua mertua memiliki karakter yang sama. Ada yang lembut, ada pula yang keras. Namun bagaimana pun sikap mereka, kedudukan mereka tetaplah sebagai orang tua yang harus dihormati.

Islam tidak pernah mensyaratkan,

"Berbaktilah kepada orang tua jika mereka baik kepadamu."

Sebaliknya, Allah memerintahkan tetap berbuat baik kepada orang tua, bahkan ketika mereka berbeda keyakinan.

Allah berfirman,

"...Pergaulilah keduanya di dunia dengan cara yang baik..."

(QS. Luqman: 15)

Jika kepada orang tua yang musyrik saja Allah memerintahkan berbuat baik, maka terlebih lagi kepada mertua yang merupakan orang tua pasangan kita.

Karena itu:

  • Bantulah suami untuk terus berbakti kepada ibunya.
  • Jangan pernah menjadi sebab putusnya hubungan seorang anak dengan ibunya.
  • Perbanyak memaafkan orang tua dan mertua.
  • Jangan menyimpan dendam yang dapat menghilangkan keberkahan rumah tangga.

Sesungguhnya ketika kita menikah, kita tidak hanya menikahi pasangan kita, tetapi juga menjadi bagian dari keluarganya.

Terkadang yang menjadi sumber masalah bukanlah ucapan orang lain, tetapi cara kita menyikapi ucapan tersebut. Kita tidak mampu mengendalikan sikap orang lain, namun kita selalu mampu memilih bagaimana cara kita meresponsnya.

Boleh jadi, rasa sakit yang kita rasakan berasal dari ego yang belum berhasil kita tundukkan.


Ketahuilah Apa yang Disukai dan Tidak Disukai oleh Suamimu

Setiap laki-laki memiliki kecenderungan yang berbeda. Namun secara umum, laki-laki menyukai penghormatan, penghargaan, dan sikap yang menjaga harga dirinya.

Allah telah memberikan kelebihan kepada laki-laki sebagai pemimpin keluarga.

"Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita..."

(QS. An-Nisa: 34)

Karena itu, seorang istri hendaknya memperhatikan apakah perkataan maupun sikapnya membuat suami merasa dihargai atau justru merasa direndahkan.

Ukuran sederhana yang bisa kita gunakan adalah:

Apakah sikap kita melahirkan keridhaan suami atau justru melukai harga dirinya?

Kisah Ummu Sulaim dan Abu Thalhah

Ketika putra mereka meninggal dunia, Ummu Sulaim tidak langsung menyampaikan kabar tersebut kepada Abu Thalhah yang baru pulang. Ia terlebih dahulu menyambut suaminya dengan penuh kelembutan, menyiapkan makanan, dan memenuhi hak suaminya. Setelah melihat kondisi suaminya tenang, barulah ia menyampaikan kabar wafatnya anak mereka dengan cara yang sangat bijaksana.

Kisah ini mengajarkan pentingnya kebijaksanaan, kelembutan, dan kemampuan memilih waktu yang tepat dalam menyampaikan sesuatu kepada pasangan.


Rasulullah ﷺ Pernah Menjauhi Istri-istrinya Selama Sebulan

Dalam suatu peristiwa, Rasulullah ﷺ pernah bersumpah tidak menemui istri-istrinya selama satu bulan sebagai bentuk pendidikan atas beberapa permasalahan rumah tangga yang terjadi.

Peristiwa ini menjadi pelajaran bahwa dalam rumah tangga pasti akan ada ujian. Bahkan rumah tangga Rasulullah ﷺ pun tidak luput darinya.

Yang membedakan bukanlah ada atau tidaknya masalah, tetapi bagaimana cara menyelesaikannya sesuai tuntunan syariat.


Kisah Syuraih Al-Qadhi

Ketika pertama kali menikah, Syuraih berkata kepada istrinya,

"Jika engkau melihat aku berada di atas kebenaran maka bantulah aku. Namun jika aku salah maka luruskanlah aku dengan cara yang baik."

Setelah dua puluh tahun menjalani rumah tangga, beliau mengatakan bahwa selama itu ia hampir tidak pernah menemukan sesuatu yang membuatnya marah kepada istrinya karena sang istri memahami apa yang beliau sukai dan apa yang beliau benci.

Rumah tangga yang harmonis lahir dari proses saling mengenal, bukan sekadar saling mencintai.


Dalam setiap rumah tangga ada musuh yang nyata, yaitu setan.

Allah berfirman,

"Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia sebagai musuh."

(QS. Fathir: 6)

Karena itu jangan sampai kita menganggap pasangan sebagai lawan, padahal yang sebenarnya sedang berusaha merusak rumah tangga adalah setan.

Boleh jadi ada seorang wanita yang Allah masukkan ke dalam surga karena kesungguhannya melayani dan memuliakan suaminya.

Rasulullah ﷺ bersabda,

"Wanita mana saja yang meminta cerai kepada suaminya tanpa alasan yang dibenarkan, maka haram baginya mencium bau surga."

(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, shahih)

Hadits ini mengajarkan agar seorang istri tidak mudah menjadikan perceraian sebagai jalan keluar ketika masalah masih dapat diperbaiki.

Sering kali yang perlu diperangi adalah hawa nafsu kita sendiri.

Jangan sampai kita sibuk menuntut hak, tetapi lalai menunaikan kewajiban.


Jangan Sebarkan Rahasia Suamimu

Salah satu amanah terbesar dalam pernikahan adalah menjaga rahasia pasangan.

Rasulullah ﷺ bersabda,

"Sesungguhnya manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah seorang suami yang membuka rahasia istrinya atau seorang istri yang membuka rahasia suaminya."

(HR. Muslim no. 1437)

Bukan hanya rahasia besar, bahkan perkara kecil yang menjadi privasi suami hendaknya dijaga.

Membuka aib pasangan kepada orang lain bukanlah solusi dari sebuah masalah.


Pelajaran dari Surah At-Tahrim

Dalam Surah At-Tahrim Allah menceritakan ketika Rasulullah ﷺ menyampaikan suatu rahasia kepada Hafshah radhiyallahu 'anha, namun rahasia tersebut kemudian tersebar.

Allah berfirman,

"...Dan ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang istrinya suatu peristiwa..."

(QS. At-Tahrim: 3)

Kemudian Allah menegur istri-istri Nabi,

"Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sungguh hati kamu berdua telah condong..."

(QS. At-Tahrim: 4)

Ayat ini mengajarkan bahwa setiap pasangan bisa melakukan kesalahan. Ketika salah, jalan terbaik adalah segera bertaubat, meminta maaf, dan memperbaiki diri.

Allah juga mengingatkan,

"Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Rabbnya akan menggantikan baginya istri-istri yang lebih baik daripada kamu..."

(QS. At-Tahrim: 5)

Ayat ini bukan untuk menakut-nakuti, tetapi menjadi pengingat agar seorang istri tidak merasa aman tanpa terus memperbaiki dirinya.

Rasulullah ﷺ juga bersabda,

"Tidaklah seorang istri menyakiti suaminya di dunia melainkan bidadari surga berkata: 'Jangan engkau sakiti dia. Semoga Allah membinasakanmu. Ia hanyalah tamu di sisimu dan sebentar lagi akan datang kepada kami.'"

(HR. Tirmidzi no. 1174, shahih)

Karena itu, hubungan suami istri harus terus dirawat. Sebagaimana sebuah aplikasi membutuhkan pembaruan, demikian pula rumah tangga membutuhkan komunikasi, quality time, saling mendengar, dan saling mengevaluasi diri.


Berdirilah di Sisi Suamimu dan Dukunglah Keputusannya

Seorang istri tidak selalu harus sepakat dengan semua keputusan suaminya. Namun ia hendaknya menjadi pendukung utama yang menguatkan suaminya dalam kebaikan.

Teladan terbaik adalah Khadijah radhiyallahu 'anha.

Ketika Rasulullah ﷺ pulang dari Gua Hira dalam keadaan gemetar setelah bertemu Jibril, Khadijah tidak menyalahkan ataupun meremehkan beliau.

Beliau berkata,

"Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selama-lamanya. Engkau menyambung silaturahim, membantu orang yang lemah, memuliakan tamu, dan menolong orang yang tertimpa musibah."

(HR. Bukhari no. 4953)

Khadijah kemudian mengajak Rasulullah ﷺ menemui Waraqah bin Naufal untuk meminta penjelasan. Ini menunjukkan bahwa seorang istri boleh memberikan solusi, masukan, dan pendapat yang baik tanpa merendahkan suaminya.

Demikian pula pada Perjanjian Hudaibiyah. Ketika para sahabat merasa berat menjalankan perintah Rasulullah ﷺ, Ummu Salamah memberikan saran yang sangat bijaksana. Rasulullah ﷺ menerima pendapat tersebut dan akhirnya para sahabat mengikuti beliau.

Ini menjadi bukti bahwa seorang istri bukan hanya pendamping, tetapi juga penasihat terbaik bagi suaminya.

Sebagaimana ditulis oleh Dr. Ali Muhammad Al-Hasyimi dalam Karakteristik Wanita Muslimah:

"Wahai saudariku muslimah yang lurus, janganlah engkau remehkan peranmu yang besar dalam kehidupan suamimu. Perkayalah ilmumu, tajamkan pikiranmu, dan berikanlah nasihat ketika ia membutuhkannya."

Penutup

Rumah tangga yang sakinah tidak dibangun oleh dua orang yang sempurna, melainkan oleh dua orang yang sama-sama bersedia memperbaiki diri. Seorang istri yang memuliakan suaminya, menghormati keluarganya, menjaga rahasianya, mendukung setiap langkah kebaikannya, dan terus memperbaiki akhlaknya karena Allah, sedang menempuh salah satu jalan yang paling mudah menuju surga.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk wanita-wanita shalihah yang menenangkan hati suami, memuliakan kedua orang tua dan mertua, menjaga amanah rumah tangga, serta memperoleh ridha Allah dan ridha suami. Aamiin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cappuccino : Tentang Cinta yang Tak Selalu Manis

  Pernah mencintai diam-diam? Pernah menunggu seseorang yang tak pernah kembali? Atau… pernah merasakan cinta yang datang terlalu terlambat? Buku Cappuccino adalah kumpulan cerita pendek yang akan membawa kamu menyusuri berbagai rasa dalam cinta— dari yang manis, pahit, hingga yang akhirnya… harus dilepaskan. Di dalamnya, kamu akan menemukan kisah-kisah seperti: cinta diam-diam yang berakhir dengan senyuman terakhir perasaan yang tak pernah terbalas hubungan yang melelahkan hingga cinta yang… “kedaluwarsa” dimakan waktu  Setiap cerita ditulis dengan bahasa yang sederhana, tapi penuh perasaan— seolah kamu sedang membaca potongan hidupmu sendiri. 💔 Kenapa buku ini wajib kamu punya? ✨ Relatable banget (banyak yang bilang: “ini gue banget…”) 📖 Cocok dibaca santai tapi tetap ngena ☕ Setiap cerita seperti secangkir cappuccino: ada pahit, ada manis 🫶 Bisa jadi teman di saat kamu lagi overthinking soal cinta 🎯 Cocok untuk kamu yang: Lagi jatuh cinta diam-diam Sedang move on Pernah...

Indah karena Ta'at

  Indah karena Taat - Ummi Aisyah- 31 Mei 2026 Tantangan Muslimah di Zaman Media Sosial Kondisi muslimah hari ini, bahkan manusia secara umum, hampir tidak bisa lepas dari media sosial. Memiliki gadget sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Karena itu, tantangan terbesar kita bukan lagi kurangnya akses terhadap ilmu. Dengan mudah kita dapat mendengarkan kajian, membaca artikel, dan belajar dari berbagai sumber hanya melalui gadget yang ada di tangan kita. Namun di sisi lain, media sosial juga membuat kita mudah terbawa arus tren dan sesuatu yang sedang viral. Tantangan terbesar seorang muslimah di zaman ini adalah menjaga hati agar tetap istiqamah di tengah begitu banyak distraksi dan kebisingan dunia. Lebih dari itu, sering kali tanpa sadar media sosial menjadi panduan hidup kita, menggantikan Al-Qur'an dan Sunnah sebagai standar. Akibatnya, banyak orang mengalami krisis identitas. Arus pemikiran dan gaya hidup yang bertentangan dengan Islam begitu kuat, sementara li...

Wanita Muslimah bersama Orang Tuanya

Kajian Kitab : Karakteristik Wanita Muslimah  karya Dr. Ali Muhammad Al Hasyimi -Ummi Aisyah- 14 Juni 2026 Di zaman ini, perempuan memiliki peran yang sangat penting dalam membangun generasi. Dari tangan para ibu lahir pemimpin, ulama, pendidik, dan generasi yang akan menentukan masa depan umat dan bangsa. Karena itu, ketika melihat berbagai permasalahan yang terjadi di negeri ini, jangan hanya sibuk menyalahkan keadaan. Jangan sampai kemarahan terhadap kondisi umat membuat kita lupa memperbaiki lingkungan terdekat yang Allah amanahkan kepada kita. Lakukanlah perubahan sekecil apa pun yang mampu kita lakukan. Sebagaimana kisah semut yang membawa setetes air untuk membantu memadamkan api yang membakar Nabi Ibrahim 'alaihissalam. Meskipun kecil, ia ingin berada di pihak kebenaran. Maka seorang muslimah dapat berkontribusi memperbaiki negeri ini dengan memperbaiki dirinya, keluarganya, anak-anaknya, dan hubungannya dengan kedua orang tuanya. Mengapa Kita Harus Mengulang Pembaha...