Resume Tarbiyyah
Tadabur QS. Al Ashr
QS. Al-'Ashr: Standar Minimum agar Tidak Merugi
Surat Al-'Ashr merupakan salah satu surat pendek yang memiliki kandungan makna yang sangat besar. Surat ini tidak secara khusus menjelaskan bagaimana seseorang meraih kesuksesan duniawi, tetapi memberikan standar minimum agar manusia tidak mengalami kerugian yang hakiki.
Karena itu, surat ini penting untuk dipelajari. Ia menjadi semacam guide minimum bagi seorang muslim: apa yang harus dimiliki agar hidupnya tidak berakhir dalam kerugian.
Waktu: Modal yang Terus Berkurang
وَالْعَصْرِ ١
Demi masa.
— QS. Al-'Ashr: 1
Allah membuka surat ini dengan sumpah atas waktu. Waktu menjadi sesuatu yang sangat penting karena ia terus berjalan dan tidak pernah kembali.
Setiap detik yang berlalu membawa kita semakin dekat kepada akhir kehidupan. Sejak seseorang dilahirkan, sesungguhnya ia sedang berjalan menuju kematian. Karena itu, waktu bukan sekadar sesuatu yang kita miliki, melainkan modal yang terus berkurang.
Berbeda dengan harta, yang jumlahnya tidak selalu dimiliki setiap orang, waktu adalah sesuatu yang pasti dilewati oleh semua manusia. Kelak, waktu yang kita miliki akan dimintai pertanggungjawaban: untuk apa ia digunakan, ke mana ia dihabiskan, dan apa yang kita hasilkan darinya.
Semakin bertambah usia, sering kali kehidupan justru terasa semakin kompleks. Hal-hal yang dahulu membuat kita bahagia ketika kecil, belum tentu memberikan kebahagiaan yang sama hari ini. Standar kenyamanan kita pun terus berubah.
Maka, jika waktu tidak digunakan dengan benar, pertambahan usia tidak otomatis membuat kita semakin baik. Bisa jadi, justru semakin banyak waktu yang berlalu, semakin besar pula kerugian yang kita kumpulkan.
Manusia Memiliki Potensi untuk Merugi
إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ٢
Sungguh, manusia benar-benar berada dalam kerugian.
— QS. Al-'Ashr: 2
Allah menyatakan bahwa manusia berada dalam kerugian. Ini menunjukkan bahwa kerugian merupakan kondisi asal yang harus diwaspadai, bukan sesuatu yang hanya dialami oleh orang-orang tertentu.
Manusia memiliki berbagai kecenderungan bawaan yang dapat menyeretnya kepada kerugian apabila tidak diarahkan dengan benar.
Manusia adalah makhluk yang mencari kenyamanan
Salah satu kata yang Allah sebutkan tentang manusia adalah Insan. Istilah insan sering dikaitkan dengan karakter manusia yang mencari rasa nyaman. Manusia ingin diterima, dicintai, dihargai, dan mendapatkan pengakuan.
Keinginan untuk mendapatkan kenyamanan dan validasi ini bukan sesuatu yang harus dihilangkan. Namun, ia perlu diarahkan kepada tempat yang benar.
Jika standar kenyamanan kita sepenuhnya bergantung kepada manusia, keadaan, atau benda tertentu, kita akan mudah kecewa. Sebab, manusia berubah, keadaan berganti, dan sesuatu yang dahulu membuat kita nyaman belum tentu selamanya memberikan rasa yang sama.
Karena itu, standar kenyamanan tertinggi seorang muslim harus disandarkan kepada Allah.
Ketika hubungan kita dengan Allah baik, berbagai ujian dalam hubungan dengan manusia tidak akan mudah menghancurkan ketenangan hati.
Jangan Menggantungkan Kebahagiaan kepada Makhluk
Dalam kehidupan, kita akan selalu berhadapan dengan berbagai persoalan: masalah keluarga, hubungan antara anak dan orang tua, pasangan, pekerjaan, maupun persoalan dengan lingkungan sekitar.
Kekecewaan adalah bagian dari sifat manusia. Namun, ketika seluruh standar kenyamanan kita diletakkan pada makhluk, kekecewaan dapat berkembang menjadi luka yang mendalam.
Sebaliknya, ketika hati bersandar kepada Allah, kita belajar memahami bahwa tidak semua hal harus berjalan sesuai keinginan agar hidup tetap memiliki ketenangan.
Kisah hijrah Rasulullah ﷺ memberikan gambaran tentang beratnya melepaskan sesuatu yang dicintai demi Allah. Hijrah menuntut pengorbanan, termasuk berpisah dari keluarga, kerabat, dan tempat yang dicintai. Namun, ketaatan kepada Allah menjadi landasan yang menguatkan langkah.
Demikian pula kisah para nabi dan orang-orang saleh yang disebutkan dalam Al-Qur'an. Mereka bukan manusia yang terbebas dari ujian atau kekecewaan. Akan tetapi, mereka memiliki tempat bersandar yang benar: Allah سبحانه وتعالى.
أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ ۖ
Bukankah Allah yang mencukupi hamba-Nya?
— QS. Az-Zumar: 36
Ketika kita meyakini bahwa Allah yang melindungi, mencukupi, dan mengatur kehidupan kita, hati akan belajar untuk lebih tenang. Bukan berarti masalah hilang, tetapi kita tidak lagi menghadapi masalah seorang diri karena ada Allah bersama kita
Al-Qur'an Mengingatkan tentang Kelemahan Manusia
Surat Al-'Ashr juga mengajak kita menyadari bahwa manusia memiliki banyak potensi negatif. Al-Qur'an menyebutkan berbagai sifat manusia yang dapat menjadi sebab kerugian apabila tidak diperbaiki.
a. Manusia mudah mengingkari nikmat
إِنَّ الْإِنسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ ٦
Sungguh, manusia itu sangat ingkar kepada Tuhannya.
— QS. Al-'Adiyat: 6
Allah telah memberikan begitu banyak nikmat, termasuk nikmat yang tidak pernah kita minta dan bahkan tidak kita sadari. Namun, manusia sering kali lebih mudah mengingat sesuatu yang belum dimiliki daripada mensyukuri apa yang telah diberikan.
Terkadang, kita merasa kecewa kepada Allah hanya karena satu doa yang belum dikabulkan, sementara begitu banyak nikmat lain telah Allah limpahkan dalam kehidupan kita tanpa kita meminta.
Ayat ini menjadi pengingat agar kita tidak membiarkan satu kekurangan menutupi begitu banyak karunia.
b. Manusia memiliki kecenderungan kikir
وَكَانَ الْإِنسَانُ قَتُورًا
Dan manusia itu memang sangat kikir.
— QS. Al-Isra': 100
Sifat kikir merupakan salah satu kecenderungan manusia. Kita mudah merasa kekurangan, khawatir kehilangan, dan berat untuk berbagi.
Padahal, ketika hati terlalu terikat kepada apa yang dimiliki, harta dan kenikmatan justru dapat menjadi sumber kegelisahan. Karena itu, Islam mengajarkan agar manusia mendidik dirinya dengan syukur, infak, dan kepedulian kepada sesama.
c. Manusia mudah berkeluh kesah dan putus asa
إِنَّ الْإِنسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا ١٩ إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا ٢٠ وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا ٢١
Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh. Apabila ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah. Dan apabila mendapat kebaikan, ia menjadi kikir.
— QS. Al-Ma'arij: 19–21
Ayat ini menggambarkan kecenderungan manusia dalam merespons keadaan. Ketika mendapatkan kesulitan, ia mudah gelisah dan mengeluh. Ketika mendapatkan kenikmatan, ia dapat menjadi enggan berbagi.
Reaksi spontan manusia terhadap masalah sering kali negatif. Karena itu, iman dan pendidikan jiwa diperlukan agar kita tidak terus-menerus dikendalikan oleh kecenderungan tersebut.
d. Manusia dapat salah memahami kemuliaan dan kehinaan
فَأَمَّا الْإِنسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ ١٥ وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ ١٦
Adapun manusia, apabila Tuhannya mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, dia berkata, “Tuhanku telah memuliakanku.” Namun, apabila Dia mengujinya lalu membatasi rezekinya, dia berkata, “Tuhanku telah menghinaku.”
— QS. Al-Fajr: 15–16
Ayat ini mengingatkan bahwa manusia sering kali mengukur kemuliaan dirinya melalui banyak atau sedikitnya kenikmatan dunia.
Padahal, kelapangan rezeki tidak selalu berarti seseorang sedang dimuliakan, dan kesempitan rezeki tidak otomatis berarti seseorang sedang dihinakan. Keduanya dapat menjadi ujian.
Kemuliaan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh apa yang ia miliki, tetapi oleh bagaimana ia menjalani ketetapan Allah dengan iman dan ketaatan.
Potensi Buruk yang Tidak Dikendalikan Akan Membawa Kerugian
Berbagai ayat tersebut menunjukkan bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk:
- Mengingkari nikmat.
- Mengeluh ketika diuji.
- Mudah berputus asa.
- Kikir dan terlalu mencintai apa yang dimiliki.
- Menggantungkan kenyamanan kepada makhluk.
- Mengukur kemuliaan melalui kenikmatan dunia.
Jika kecenderungan-kecenderungan ini dibiarkan, bertambahnya waktu tidak selalu membuat seseorang semakin dekat kepada Allah. Justru, ia dapat semakin jauh dan semakin banyak mengumpulkan kerugian.
Karena itu, kita perlu menyadari bahwa manusia tidak cukup hanya mengandalkan dirinya sendiri. Kita membutuhkan petunjuk Allah, latihan jiwa, dan lingkungan yang membantu kita tetap berada di jalan kebenaran.
Empat Jalan Keluar dari Kerugian
إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ٣
Kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan kebajikan, serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.
— QS. Al-'Ashr: 3
Setelah menjelaskan bahwa manusia berada dalam kerugian, Allah memberikan jalan keluarnya. Ada empat hal yang menjadi syarat keselamatan dari kerugian:
1. Iman
Iman menjadi fondasi utama. Tanpa iman, manusia tidak memiliki arah yang benar dalam menjalani kehidupan. Iman membimbing hati untuk mengenal Allah, mempercayai janji-Nya, dan menjadikan-Nya sebagai tujuan utama.
2. Beramal saleh
Iman tidak berhenti pada keyakinan di dalam hati, tetapi harus diwujudkan dalam amal. Waktu yang kita miliki perlu diisi dengan kebaikan, ibadah, dan perbuatan yang diridai Allah.
3. Saling menasihati dalam kebenaran
Manusia membutuhkan pengingat. Kita perlu saling mengajak kepada iman, ketaatan, dan kebenaran. Tidak cukup hanya berusaha memperbaiki diri, tetapi juga memiliki kepedulian agar orang lain mendapatkan kebaikan yang sama.
4. Saling menasihati dalam kesabaran
Menjalankan kebenaran tidak selalu mudah. Kita membutuhkan kesabaran dalam beribadah, meninggalkan maksiat, menghadapi ujian, dan terus memperbaiki diri. Karena itu, kita juga perlu saling menguatkan agar tidak mudah menyerah.
Keluar dari Kerugian Tidak Cukup Dilakukan Sendirian
Salah satu hal menarik dalam surat ini adalah penggunaan kata الَّذِينَ (alladzīna, orang-orang yang) pada ayat ketiga. Setelah menyebut manusia secara umum, Allah menggambarkan golongan yang selamat dengan bentuk jamak.
Hal ini mengingatkan bahwa jalan keselamatan bukan hanya perjalanan individual. Kita membutuhkan kebersamaan dalam iman, amal saleh, nasihat, dan kesabaran.
Kita semua memiliki potensi untuk merugi. Karena itu, obat pertama yang perlu kita lakukan adalah menyadari kelemahan diri dan membangun lingkungan yang saling menguatkan dalam kebaikan.
Kita perlu memiliki orang-orang yang mengingatkan ketika lalai, menguatkan ketika lemah, menasihati ketika salah, dan menemani ketika menjalani ujian.
Jangan Sampai Waktu Hanya Menambah Angka Usia
Surat Al-'Ashr mengajarkan bahwa bertambahnya usia tidak otomatis berarti bertambahnya keberhasilan. Waktu dapat menjadi jalan menuju keselamatan, tetapi juga dapat menjadi sebab kerugian apabila tidak diisi dengan iman dan amal yang benar.
Maka, pertanyaan penting dalam hidup bukan hanya:
“Sudah berapa lama aku hidup?”
Tetapi juga:
“Apa yang telah aku lakukan dengan waktu yang Allah berikan?”
Semoga kita tidak menjadi orang-orang yang hanya bertambah usia, tetapi juga bertambah iman, amal saleh, kesabaran, dan kedekatan kepada Allah.
Karena pada akhirnya, yang paling penting bukan sekadar berapa banyak waktu yang kita miliki, melainkan apakah waktu itu membawa kita keluar dari kerugian.
***

Komentar
Posting Komentar