Resume Kajian Bulanan Orang Tua Santri Kuttab Al Fatih Bandung
5 September 2026
Pemateri : Ust. Hari Setiawan
Pentingnya Memiliki dan Memurajaah Visi
Allah ﷻ ketika menjelaskan tentang tujuan dan arah kehidupan manusia sering kali mengingatkan kita secara berulang. Salah satu bentuknya adalah ketika Allah menetapkan bahwa tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada-Nya. Tujuan tersebut terus kita ulang dalam kehidupan sehari-hari, bahkan dalam shalat.
Hal ini menunjukkan bahwa visi dan tujuan harus senantiasa diingat dan dimurajaah. Demikian pula dalam pendidikan anak. Kita perlu terus bertanya kepada diri sendiri: Untuk apa sebenarnya kita mendidik anak-anak kita? Anak seperti apa yang ingin kita lahirkan? Ke mana arah pendidikan keluarga kita?
Jangan sampai perjalanan pendidikan anak justru membuat kita kehilangan arah karena terlalu sibuk mengejar kenikmatan dunia.
Allah ﷻ berfirman dalam QS. Thaha ayat 130–131:
QS. Thaha: 130
فَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا ۖ وَمِنْ آنَاءِ اللَّيْلِ فَسَبِّحْ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ لَعَلَّكَ تَرْضَىٰ
“Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang.”
QS. Thaha: 131
وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
“Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami uji mereka dengannya. Dan karunia Tuhanmu adalah lebih baik dan lebih kekal.”
Ayat ini mengingatkan kita agar tidak terlalu memandang kenikmatan dunia yang dimiliki orang lain hingga hati kita ikut menginginkannya dan akhirnya kehilangan fokus terhadap tujuan yang lebih besar.
Allah menyebut kenikmatan dunia sebagai زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا — bunga kehidupan dunia, dan kemudian menegaskan:
وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
“Dan karunia Tuhanmu adalah lebih baik dan lebih kekal.”
Maka yang perlu kita perhatikan bukan sekadar seberapa banyak harta yang kita miliki, tetapi apa pengaruh kenikmatan dunia tersebut terhadap hati kita.
Apakah dunia membuat kita lupa kepada akhirat?
Atau justru dunia menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mengejar kehidupan akhirat?
Dunia boleh berada di tangan, tetapi jangan sampai dunia berada di hati. Hati kita harus tetap tertuju kepada Allah dan kehidupan akhirat.
Dua Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Menjaga Visi
Ada dua hal yang perlu kita perhatikan ketika menjaga visi kehidupan dan pendidikan keluarga.
1. Kenikmatan dunia
Allah berfirman:
لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ
“Untuk Kami uji mereka dengannya.”
Kenikmatan dunia bukan sekadar pemberian, tetapi juga ujian.
Karena itu, besar atau kecilnya harta bukanlah ukuran utama keberhasilan. Yang lebih penting adalah bagaimana harta tersebut memengaruhi hati dan arah hidup kita.
Apakah kenikmatan dunia membuat kita lupa kepada akhirat, atau justru menjadi wasilah untuk melakukan kebaikan dan mengejar ridha Allah?
2. Ketika melihat orang lain mendapatkan kenikmatan dunia
Kita juga perlu berhati-hati ketika melihat orang-orang yang mendapatkan berbagai kenikmatan dunia.
Jangan sampai mata kita terus memandang apa yang mereka miliki sehingga kita kehilangan fokus terhadap perjalanan kita sendiri.
Ketika terlalu banyak melihat ke kanan dan ke kiri, kita bisa lupa sedang menuju ke mana.
Maka fokuslah kepada visi.
Kita harus mengetahui tujuan akhir yang ingin kita capai dan terus mengarahkan keluarga menuju tujuan tersebut.
Visi Keluarga dalam Al-Qur'an
Jika kita berbicara tentang visi keluarga, Al-Qur'an memberikan beberapa gambaran yang sangat jelas.
1. Menjadikan keluarga sebagai Qurrata A'yun
Allah ﷻ berfirman dalam doa 'Ibadurrahman:
وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.’”(QS. Al-Furqan: 74)
Hal pertama yang disebutkan adalah قُرَّةَ أَعْيُنٍ (qurrata a'yun), yaitu sesuatu yang menyejukkan dan menenangkan pandangan.
Kegelisahan seseorang terkadang dapat terlihat dari matanya. Ketika seseorang melihat sesuatu yang baik dan menenangkan hatinya, pandangannya pun menjadi tenang.
Maka visi pertama keluarga adalah bagaimana setiap anggota keluarga menjadi qurrata a'yun bagi anggota keluarga lainnya.
Suami menjadi penyejuk hati bagi istri. Istri menjadi penyejuk hati bagi suami. Anak-anak menjadi penyejuk hati bagi orang tuanya, dan demikian pula sebaliknya.
Namun qurrata a'yun bukan sekadar anak yang membuat orang tua merasa bangga secara duniawi. Lebih dari itu, ia adalah keluarga yang menghadirkan ketenangan karena ketaatan kepada Allah.
2. Menjadikan keluarga sebagai sumber lahirnya pemimpin orang-orang bertakwa
Ayat yang sama kemudian dilanjutkan:
وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”
Ini menunjukkan bahwa visi keluarga tidak berhenti pada terciptanya keluarga yang harmonis.
Kita berharap dari keluarga tersebut lahir manusia yang mampu menjadi teladan bagi orang-orang yang bertakwa.
Dengan demikian, pendidikan anak bukan hanya untuk menjadikan mereka sukses secara pribadi, tetapi agar mereka menjadi manusia yang memberikan pengaruh kebaikan kepada orang lain.
3. Menjaga keluarga dari api neraka
Visi keluarga berikutnya adalah menyelamatkan seluruh anggota keluarga dari api neraka.
Allah ﷻ berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.”(QS. At-Tahrim: 6)
Tidak ada kebahagiaan yang sempurna jika pada akhirnya seseorang berujung di neraka.
Maka kesuksesan keluarga tidak cukup hanya diukur dari pendidikan, pekerjaan, harta, rumah, atau pencapaian duniawi. Kesuksesan yang paling besar adalah ketika seluruh anggota keluarga mendapatkan keselamatan di akhirat.
4. Masuk surga bersama keluarga
Allah ﷻ berfirman:
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ ۚ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ
“Dan orang-orang yang beriman, dan anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan keturunan mereka dengan mereka (di dalam surga), dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal kebajikan mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya.”(QS. At-Tur: 21)
Maka visi keluarga tidak berhenti di dunia.
Kita ingin keluarga yang saling menolong dalam ketaatan, saling menguatkan dalam iman, dan pada akhirnya dikumpulkan kembali oleh Allah di dalam surga.
Visi Keluarga dan Visi Keumatan
Rasulullah ﷺ juga memberikan gambaran tentang perjalanan umat Islam.
Kita harus yakin terhadap janji Rasulullah ﷺ. Namun janji tersebut juga menuntut adanya manusia yang mengambil bagian dalam proses menuju terwujudnya kebaikan tersebut.
Dalam kajian ini disampaikan bahwa umat Islam melalui lima fase:
- An-Nubuwwah — masa kenabian.
- Khilafah 'ala Minhajin Nubuwwah — khilafah di atas manhaj kenabian.
- Mulkan 'Adhan — kerajaan yang menggigit.
- Mulkan Jabriyyan — kerajaan yang memaksa.
- Khilafah 'ala Minhajin Nubuwwah — kembali kepada khilafah di atas manhaj kenabian.
Fase pertama berlangsung selama kurang lebih 30 tahun, sedangkan durasi fase-fase berikutnya tidak disebutkan secara pasti.
Dalam pembahasan kajian ini, disampaikan bahwa kita berada pada fase keempat dan bahwa fase kelima belum terwujud.
Maka pertanyaan penting bagi kita adalah:
Generasi seperti apa yang harus kita siapkan untuk menghadapi masa depan umat?
Inilah pekerjaan besar kita.
Jika kita berharap lahirnya generasi yang mampu membawa kebaikan bagi umat, maka persiapannya tidak bisa dimulai ketika mereka sudah dewasa. Persiapan tersebut harus dimulai dari keluarga.
Janji Penaklukan Konstantinopel dan Roma
Rasulullah ﷺ juga menyampaikan kabar tentang penaklukan Konstantinopel. Penaklukan Konstantinopel kemudian menjadi bagian dari sejarah yang sangat penting bagi umat Islam dan direalisasikan pada masa Muhammad Al-Fatih.
Dalam kajian ini juga dibahas tentang hadis-hadis yang berkaitan dengan penaklukan Roma.
Jika terdapat janji Rasulullah ﷺ yang belum terealisasi, maka yang perlu kita tanyakan bukan sekadar “kapan janji itu akan terjadi?”, tetapi juga:
Apa yang bisa kita persiapkan agar generasi kita memiliki kapasitas untuk mengambil bagian dalam kebaikan yang Allah kehendaki bagi umat ini?
Kita tidak mengetahui apakah kita akan menjadi orang yang menyaksikan suatu peristiwa besar. Namun kita dapat berusaha menyiapkan generasi yang memiliki iman, ilmu, visi, keberanian, dan kemampuan untuk memberikan kontribusi bagi umat.
Jembatan antara Visi Keluarga dan Visi Keumatan
Jika kita menghubungkan visi yang disebutkan dalam Al-Qur'an dengan visi yang disebutkan dalam hadis, terlihat bahwa Al-Qur'an banyak memberikan perhatian kepada keluarga, sementara Rasulullah ﷺ juga berbicara tentang kesatuan dan perjalanan umat Islam.
Lalu apa jembatan antara keduanya?
Salah satunya adalah doa:
وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”
Ketika kita membangun keluarga yang bertakwa, kita sedang menyiapkan manusia yang kelak dapat memberikan manfaat kepada masyarakat dan umat.
Pemimpin yang bertakwa tidak lahir dari ruang kosong. Ia lahir dari masyarakat yang memiliki kualitas iman dan ketakwaan.
Karena itu, jika kita menginginkan hadirnya pemimpin yang baik, maka salah satu pekerjaan penting kita adalah mempersiapkan manusia-manusia yang baik dan bertakwa.
Belajar dari Sejarah Muhammad Al-Fatih
Jika kita memiliki visi tentang kebangkitan umat, maka kita harus belajar memahami sejarah.
Kita perlu mengetahui seperti apa Rasulullah ﷺ membangun masyarakat, bagaimana beliau mendidik para sahabat, bagaimana para pemimpin dalam sejarah Islam dibentuk, serta bagaimana masyarakat yang baik dapat melahirkan pemimpin yang baik.
Salah satu kisah yang penting untuk dipelajari adalah Muhammad Al-Fatih.
Kita tidak boleh hanya melihat Muhammad Al-Fatih pada saat ia berhasil menaklukkan Konstantinopel. Kita perlu melihat proses panjang yang membentuk dirinya.
Ada peran seorang ayah yang memiliki visi pendidikan. Ada guru yang membangun ilmu dan ruhiyahnya. Ada ibu yang memberikan keteladanan. Ada lingkungan yang mendukung terbentuknya karakter dan visi besar dalam dirinya.
Artinya, di balik lahirnya seorang tokoh besar terdapat proses pendidikan yang panjang dan ekosistem yang mendukung.
Maka ketika kita berbicara tentang visi umat, jangan hanya bertanya, “Siapa yang akan menjadi pemimpinnya?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Generasi seperti apa yang sedang kita lahirkan hari ini?”
Keselarasan antara Pemimpin dan Rakyat
Kembali kepada QS. Al-Furqan ayat 74:
وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
Ayat ini mengandung doa agar kita menjadi pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.
Dari sini kita dapat mengambil pelajaran bahwa kualitas pemimpin memiliki hubungan erat dengan kualitas masyarakat yang dipimpinnya.
Maka pekerjaan kita bukan sekadar menunggu munculnya pemimpin yang baik.
Kita perlu melahirkan manusia-manusia yang bertakwa.
Sebab dari masyarakat yang bertakwa diharapkan lahir pemimpin yang bertakwa.
Misi Keluarga Muslim yang Berhubungan dengan Visi Keumatan
Jika visi keluarga sudah jelas, maka diperlukan misi untuk mencapainya.
Salah satu misi penting keluarga Muslim adalah:
1. Disiplin Menjaga Celah dan Pos Penjagaan
Setiap individu Muslim memiliki posisi dan tanggung jawab masing-masing dalam menjaga agama.
Ada sebuah ungkapan yang disampaikan dalam kajian:
“Setiap laki-laki dari kaum Muslimin berada pada sebuah celah dari celah-celah pertahanan Islam. Maka bertakwalah kepada Allah, bertakwalah kepada Allah, jangan sampai Islam ditembus dari arah penjagaan yang menjadi tanggung jawabnya.”
Maknanya, setiap orang memiliki pos penjagaan masing-masing.
Ada yang menjaga ilmu. Ada yang menjaga keluarga. Ada yang menjaga pendidikan. Ada yang menjaga dakwah. Ada yang menjaga amanah pekerjaan. Semuanya memiliki peran dalam menjaga kekuatan umat.
Karena itu, jangan meremehkan posisi kita masing-masing.
Kelemahan satu orang dapat menjadi celah yang dimanfaatkan oleh pihak lain.
Belajar dari Perang Uhud
Salah satu contoh tertembusnya sebuah pos pertahanan dapat kita lihat dalam peristiwa Perang Uhud.
Allah ﷻ berfirman:
وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللَّهُ وَعْدَهُ إِذْ تَحُسُّونَهُم بِإِذْنِهِ حَتَّىٰ إِذَا فَشِلْتُمْ وَتَنَازَعْتُمْ فِي الْأَمْرِ وَعَصَيْتُم مِّن بَعْدِ مَا أَرَاكُم مَّا تُحِبُّونَ ۚ مِنكُم مَّن يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنكُم مَّن يُرِيدُ الْآخِرَةَ ۚ ثُمَّ صَرَفَكُمْ عَنْهُمْ لِيَبْتَلِيَكُمْ ۖ وَلَقَدْ عَفَا عَنكُمْ ۗ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ
“Dan sungguh, Allah telah memenuhi janji-Nya kepadamu ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mengabaikan perintah Rasul setelah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antara kamu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk mengujimu, tetapi Dia benar-benar telah memaafkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang diberikan) kepada orang-orang mukmin.”(QS. Ali 'Imran: 152)
Salah satu pelajaran besar dari ayat ini adalah tentang ketaatan, disiplin, perselisihan, dan orientasi terhadap dunia.
Para pemanah diperintahkan untuk tetap berada di pos mereka. Namun ketika sebagian melihat keadaan yang berubah dan mengira kemenangan telah diraih, sebagian di antara mereka meninggalkan pos.
Allah kemudian menyebut:
مِنكُم مَّن يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنكُم مَّن يُرِيدُ الْآخِرَةَ
“Di antara kamu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada yang menghendaki akhirat.”
Maka salah satu hal yang harus kita jaga adalah jangan sampai orientasi dunia menjadi celah dalam perjuangan kebaikan kita.
Jika niat kita tidak lagi fokus kepada visi yang benar dan hati mulai terlalu terpaut kepada dunia, hal tersebut dapat menjadi titik lemah dalam kebersamaan.
Sebaliknya, ketika setiap orang fokus menjalankan amanah dan menjaga posnya masing-masing, kekuatan akan menjadi lebih kokoh.
Lalu, Apa Amal yang Harus Kita Fokuskan?
Visi yang besar tidak boleh membuat kita melupakan amal-amal dasar yang menjadi fondasinya.
Salah satu amal utama yang harus dijaga dalam keluarga adalah shalat.
Allah ﷻ berfirman:
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ
“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) adalah bagi orang yang bertakwa.”(QS. Thaha: 132)
Perhatikan urutannya: perintahkan keluarga untuk shalat, kemudian bersabar dalam menjaganya.
Maka ketika berbicara tentang visi besar umat, jangan sampai kita justru melupakan pekerjaan paling dekat yang Allah amanahkan kepada kita.
Mulailah dari rumah.
Perintahkan keluarga untuk shalat. Bangun keimanan. Bentuk ketakwaan. Tanamkan ilmu. Berikan keteladanan. Jaga keluarga dari api neraka.
Karena bisa jadi, kebangkitan umat yang besar itu dimulai dari sebuah rumah yang kecil.
Penutup
Kita sering berbicara tentang masa depan umat, tentang pemimpin, tentang peradaban, tentang kebangkitan, dan tentang berbagai janji kebaikan yang disampaikan dalam wahyu.
Namun semuanya harus dikembalikan kepada pertanyaan yang paling dekat:
Apa yang sedang kita bangun di rumah kita hari ini?
Apakah kita sedang mempersiapkan anak hanya untuk menjadi manusia yang sukses?
Ataukah kita sedang mempersiapkan manusia yang mengenal Allah, bertakwa kepada-Nya, memiliki ilmu, berakhlak, memiliki visi, dan menjadi sebab kebaikan bagi orang lain?
Visi keumatan tidak boleh membuat kita melupakan keluarga. Justru keluarga adalah salah satu tempat pertama untuk menyiapkan generasi yang akan membawa kebaikan bagi umat.
Kita mungkin tidak tahu siapa yang kelak Allah pilih untuk menjadi bagian dari perubahan besar umat.
Namun kita tahu tugas kita:
menjaga pos kita, memperbaiki keluarga kita, mendidik anak-anak kita, dan menyiapkan generasi yang bertakwa.
Karena kita tidak tahu siapa yang akan menjadi pemimpin umat di masa depan.
Tetapi kita bisa ikut mempersiapkan orang-orang yang kelak layak menjadi bagian dari umat yang baik.

Komentar
Posting Komentar