Langsung ke konten utama

Memeluk Dingin...

Hujan...
Butiran air itu seperti memukul - mukul tubuh kecilku. Aku kedinginan dibawah jembatan. Hanya kaos dan celana pendek kumal yang menyelimutiku, mencoba menghangatkan tubuhku dengan simpulan benang di dalamnya.

Semakin lama, derai hujan itu bukannya berhenti. Tetapi malah semakin deras, membawa angin kencang dan petir yang menyambar langit. Aku peluk erat udara dingin di sekelilingku. Mulut kecilku berbisik, "Ibu, aku kedinginan. Aku ingin pulang. Aku ingin dipelukmu." seperti orang gila, aku memanggil - manggil nama "ibu" tanpa aku tahu wujudnya seperti apa. Tanpa aku tahu ia di mana. Tanpa aku tahu, dia siapa. "Ibu aku rindu..."

Hari semakin gelap. Hujan tak kunjung reda. Aku masih bersandar di pilar jembatan di pinggir sungai dengan uang recehan yang aku dapat. Aku mendengar suara derap langkah kaki mendekatiku. Seseorang bertubuh besar, dengan daster selutut yang menutupi tubuhnya. Ia membawa sebuah payung besar yang menghalau hujan. "Ibu..." bisikku. Ketika kutatap mata itu, bukan, itu bukan ibu.

Wanita paruh baya itu menarik tangan kecilku. Tangan yang aku kepal, menggenggam uang recehan pemberian orang di jalanan. Jemarinya yang besar memaksaku membuka jemariku yang kecil. Uang yang tidak seberapa itu dibawanya pergi. Ia melangkah menjauh meninggalkanku sendiri lagi.

Aku baru makan sepotong roti tadi pagi. Roti pemberian seseorang yang tidak aku kenal. Seorang ibu muda yang terlihat iba menatapku terkapar di trotoar. Sepotong roti itu ternyata tidak mampu mengisi perutku sampai malam. Aku terkapar di sini, di sisi sungai yang deras, dengan derai hujan yang semakin lebat. Aku terkapar sambil memeluk perutku yang lapar. Hanya wajah ibu itu yang memberikanku sedikit energi untukku bisa tetap tersenyum sebelum aku terlelap di tengah hujan sambil memeluk dingin di sisi - sisi tubuh mungilku.

Komentar

  1. hi there..
    tulisan kamu baguss..FFnya juga.. aku blm bisa loh bikin FF.. :D

    BalasHapus
  2. Terimakasih..
    tulisan kamu juga nggak kalah bagus kok :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cappuccino : Tentang Cinta yang Tak Selalu Manis

  Pernah mencintai diam-diam? Pernah menunggu seseorang yang tak pernah kembali? Atau… pernah merasakan cinta yang datang terlalu terlambat? Buku Cappuccino adalah kumpulan cerita pendek yang akan membawa kamu menyusuri berbagai rasa dalam cinta— dari yang manis, pahit, hingga yang akhirnya… harus dilepaskan. Di dalamnya, kamu akan menemukan kisah-kisah seperti: cinta diam-diam yang berakhir dengan senyuman terakhir perasaan yang tak pernah terbalas hubungan yang melelahkan hingga cinta yang… “kedaluwarsa” dimakan waktu  Setiap cerita ditulis dengan bahasa yang sederhana, tapi penuh perasaan— seolah kamu sedang membaca potongan hidupmu sendiri. 💔 Kenapa buku ini wajib kamu punya? ✨ Relatable banget (banyak yang bilang: “ini gue banget…”) 📖 Cocok dibaca santai tapi tetap ngena ☕ Setiap cerita seperti secangkir cappuccino: ada pahit, ada manis 🫶 Bisa jadi teman di saat kamu lagi overthinking soal cinta 🎯 Cocok untuk kamu yang: Lagi jatuh cinta diam-diam Sedang move on Pernah...

Indah karena Ta'at

  Indah karena Taat - Ummi Aisyah- 31 Mei 2026 Tantangan Muslimah di Zaman Media Sosial Kondisi muslimah hari ini, bahkan manusia secara umum, hampir tidak bisa lepas dari media sosial. Memiliki gadget sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Karena itu, tantangan terbesar kita bukan lagi kurangnya akses terhadap ilmu. Dengan mudah kita dapat mendengarkan kajian, membaca artikel, dan belajar dari berbagai sumber hanya melalui gadget yang ada di tangan kita. Namun di sisi lain, media sosial juga membuat kita mudah terbawa arus tren dan sesuatu yang sedang viral. Tantangan terbesar seorang muslimah di zaman ini adalah menjaga hati agar tetap istiqamah di tengah begitu banyak distraksi dan kebisingan dunia. Lebih dari itu, sering kali tanpa sadar media sosial menjadi panduan hidup kita, menggantikan Al-Qur'an dan Sunnah sebagai standar. Akibatnya, banyak orang mengalami krisis identitas. Arus pemikiran dan gaya hidup yang bertentangan dengan Islam begitu kuat, sementara li...

Menyambut Lailatul Qadar

 Resume Kajian Subuh Akhwat Al Lathiif Menyambut 10 Hari Terakhir Ramadhan Umi Aisyah 20 Ramadhan 1447 H Iman adalah motivasi terbesar dalam kehidupan seorang muslim. Dengan iman, seseorang mampu menjalani kehidupan dengan penuh harapan, ketenangan, dan kebahagiaan—baik di dunia maupun di akhirat. Iman bukan hanya sesuatu yang abstrak, tetapi bisa dijabarkan dalam kehidupan nyata dan dibuktikan melalui amal. Salah satu bentuk nyata dari iman adalah ketaatan kita menjalankan ibadah yang Allah perintahkan, termasuk ibadah puasa di bulan Ramadhan. Allah mensyariatkan puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi agar kita mencapai derajat takwa. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ÙŠَا Ø£َÙŠُّÙ‡َا الَّذِينَ آمَÙ†ُوا Ùƒُتِبَ عَÙ„َÙŠْÙƒُÙ…ُ الصِّÙŠَامُ ÙƒَÙ…َا Ùƒُتِبَ عَÙ„َÙ‰ الَّذِينَ Ù…ِÙ†ْ Ù‚َبْÙ„ِÙƒُÙ…ْ Ù„َعَÙ„َّÙƒُÙ…ْ تَتَّÙ‚ُونَ "Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 183...