Butiran air itu seperti memukul - mukul tubuh kecilku. Aku kedinginan dibawah jembatan. Hanya kaos dan celana pendek kumal yang menyelimutiku, mencoba menghangatkan tubuhku dengan simpulan benang di dalamnya.
Semakin lama, derai hujan itu bukannya berhenti. Tetapi malah semakin deras, membawa angin kencang dan petir yang menyambar langit. Aku peluk erat udara dingin di sekelilingku. Mulut kecilku berbisik, "Ibu, aku kedinginan. Aku ingin pulang. Aku ingin dipelukmu." seperti orang gila, aku memanggil - manggil nama "ibu" tanpa aku tahu wujudnya seperti apa. Tanpa aku tahu ia di mana. Tanpa aku tahu, dia siapa. "Ibu aku rindu..."
Hari semakin gelap. Hujan tak kunjung reda. Aku masih bersandar di pilar jembatan di pinggir sungai dengan uang recehan yang aku dapat. Aku mendengar suara derap langkah kaki mendekatiku. Seseorang bertubuh besar, dengan daster selutut yang menutupi tubuhnya. Ia membawa sebuah payung besar yang menghalau hujan. "Ibu..." bisikku. Ketika kutatap mata itu, bukan, itu bukan ibu.
Wanita paruh baya itu menarik tangan kecilku. Tangan yang aku kepal, menggenggam uang recehan pemberian orang di jalanan. Jemarinya yang besar memaksaku membuka jemariku yang kecil. Uang yang tidak seberapa itu dibawanya pergi. Ia melangkah menjauh meninggalkanku sendiri lagi.
Aku baru makan sepotong roti tadi pagi. Roti pemberian seseorang yang tidak aku kenal. Seorang ibu muda yang terlihat iba menatapku terkapar di trotoar. Sepotong roti itu ternyata tidak mampu mengisi perutku sampai malam. Aku terkapar di sini, di sisi sungai yang deras, dengan derai hujan yang semakin lebat. Aku terkapar sambil memeluk perutku yang lapar. Hanya wajah ibu itu yang memberikanku sedikit energi untukku bisa tetap tersenyum sebelum aku terlelap di tengah hujan sambil memeluk dingin di sisi - sisi tubuh mungilku.
hi there..
BalasHapustulisan kamu baguss..FFnya juga.. aku blm bisa loh bikin FF.. :D
Terimakasih..
BalasHapustulisan kamu juga nggak kalah bagus kok :)