Langsung ke konten utama

Menyambut Lailatul Qadar

 Resume Kajian Subuh Akhwat Al Lathiif


Menyambut 10 Hari Terakhir Ramadhan

Umi Aisyah
20 Ramadhan 1447 H

Iman adalah motivasi terbesar dalam kehidupan seorang muslim. Dengan iman, seseorang mampu menjalani kehidupan dengan penuh harapan, ketenangan, dan kebahagiaan—baik di dunia maupun di akhirat. Iman bukan hanya sesuatu yang abstrak, tetapi bisa dijabarkan dalam kehidupan nyata dan dibuktikan melalui amal.

Salah satu bentuk nyata dari iman adalah ketaatan kita menjalankan ibadah yang Allah perintahkan, termasuk ibadah puasa di bulan Ramadhan. Allah mensyariatkan puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi agar kita mencapai derajat takwa.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."
(QS. Al-Baqarah: 183)

Karena itu, indikator keberhasilan Ramadhan bukan sekadar banyaknya aktivitas ibadah yang kita lakukan, tetapi apakah nilai takwa dalam diri kita bertambah atau tidak. Inilah yang perlu kita evaluasi. Ramadhan seharusnya meninggalkan bekas dalam jiwa kita: membuat hati lebih tunduk kepada Allah dan lebih patuh terhadap syariat-Nya dalam segala keadaan.


Ramadhan: Hadiah untuk Umat Rasulullah

Ramadhan memiliki banyak keistimewaan. Salah satu hikmah yang sangat menyentuh adalah bahwa Ramadhan merupakan bentuk kasih sayang Allah kepada umat Nabi Muhammad ﷺ.

Dikisahkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah merasa khawatir ketika mengetahui bahwa umat-umat nabi terdahulu memiliki umur yang panjang sehingga mereka memiliki kesempatan beribadah lebih lama. Sementara umur umat beliau rata-rata hanya sekitar 60 hingga 70 tahun.

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إِلَى السَّبْعِينَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ

"Umur umatku berkisar antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun, dan sedikit di antara mereka yang melebihi itu."
(HR. Tirmidzi)

Karena kasih sayang-Nya kepada umat ini, Allah menghadiahkan satu malam yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan, yaitu malam Lailatul Qadar.

Allah berfirman:

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ

"Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan."
(QS. Al-Qadr: 3)

Seribu bulan setara dengan lebih dari 83 tahun ibadah. Bayangkan betapa besar karunia Allah kepada umat Nabi Muhammad ﷺ.

Karena itu, kita harus mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh untuk menyambut sepuluh malam terakhir Ramadhan. Ini adalah bentuk penghargaan kita kepada Allah yang telah memberikan hadiah yang begitu besar.


Jangan Lelah di Penghujung Ramadhan

Sering kali semangat ibadah sangat terasa di awal Ramadhan, namun mulai melemah ketika memasuki sepuluh hari terakhir. Padahal justru di akhir Ramadhan itulah puncak dari seluruh perjalanan ibadah kita.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ

"Sesungguhnya amal itu tergantung pada akhirnya."
(HR. Bukhari)

Jika Ramadhan diibaratkan seperti sebuah perlombaan lari, maka sepuluh malam terakhir adalah detik-detik menuju garis finish. Orang yang berlari paling kuat di akhir perlombaanlah yang akan memenangkan pertandingan.

Sangat merugi jika kita melewatkan kesempatan besar ini. Jangan sampai kita terlalu sibuk dengan urusan domestik atau persiapan hari raya sehingga melalaikan ibadah di penghujung Ramadhan.

Padahal, inilah momen emas untuk mengejar pahala dan menutup Ramadhan dengan amal terbaik.


Evaluasi Diri di Akhir Ramadhan

Ramadhan membuka pintu-pintu surga bagi hamba-hamba Allah yang bersungguh-sungguh.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

"Apabila datang bulan Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Orang yang berhasil dalam hidup adalah orang yang mampu berhitung. Dalam kehidupan dunia kita terbiasa menghitung keuntungan dan kerugian. Demikian pula dalam kehidupan akhirat, kita perlu menghitung amal dan pahala.

Karena itu, menjelang sepuluh hari terakhir Ramadhan kita perlu bertanya kepada diri sendiri:

  • Amal apa yang sudah baik dan harus dipertahankan?
  • Ibadah apa yang harus ditingkatkan?
  • Kebiasaan baik apa yang ingin kita bawa hingga setelah Ramadhan, bahkan sampai Syawal dan seterusnya?

Jangan sampai Ramadhan berlalu begitu saja tanpa membuka satu pun pintu surga bagi kita.


Idul Fitri: Kembali kepada Fitrah

Tujuan akhir Ramadhan adalah mengembalikan manusia kepada fitrah.

Allah berfirman:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا

"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu."
(QS. Ar-Rum: 30)

Fitrah adalah kecenderungan alami manusia untuk mengenal dan menyembah Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ

"Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Karena itu, Idul Fitri bukan sekadar hari kemenangan secara lahiriah, tetapi kembalinya manusia kepada fitrah: hati yang lebih bersih, jiwa yang lebih dekat kepada Allah, dan kehidupan yang lebih tunduk kepada syariat-Nya.

Fitrah ini berkaitan dengan salah satu nama Allah, yaitu Al-Fāṭir — Sang Pencipta yang menciptakan manusia dengan fitrah untuk mengenal-Nya.

Ketika manusia melakukan dosa dan menjauh dari Allah, ia sebenarnya sedang menjauh dari fitrahnya. Itulah sebabnya dosa membuat hati terasa sempit, gelisah, dan tidak tenang.

Ramadhan hadir sebagai momen kalibrasi jiwa, untuk mengembalikan kita kepada fitrah dan menyambungkan kembali hati kita kepada Allah Al-Fāṭir.


Amalan di Sepuluh Malam Terakhir

Meskipun Rasulullah ﷺ dan para sahabat memiliki kualitas iman yang jauh lebih tinggi dari kita, mereka justru meningkatkan ibadah secara maksimal di sepuluh malam terakhir Ramadhan.

Dalam sebuah hadits disebutkan:

كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ الْأَوَاخِرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

"Apabila masuk sepuluh malam terakhir Ramadhan, Nabi mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Ini menunjukkan betapa besar perhatian Rasulullah terhadap sepuluh malam terakhir.


Doa di Malam Lailatul Qadar

Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ:

"Wahai Rasulullah, jika aku mengetahui malam Lailatul Qadar, doa apa yang sebaiknya aku ucapkan?"

Rasulullah ﷺ menjawab:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

"Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa‘fu ‘anni."

"Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku."
(HR. Tirmidzi)


Semoga Allah memberikan kita taufik untuk memaksimalkan sepuluh malam terakhir Ramadhan, meraih Lailatul Qadar, dan keluar dari Ramadhan dalam keadaan hati yang kembali kepada fitrah.

Aamiin.




Komentar