Image source : http://www.satubahasa.com/2014/12/puisi-rindu-untuk-kekasih-paling-puitis.html
Jalanan yang lengang membuat pikirannya mengawang. Dari balik kemudi Gadis berkerudung biru itu menatap lurus ke jalanan. Basah. Gelap. Sebuah sepeda motor melintas dengan cepat. Tepat melewati mobil yang ia kemudikan. Terkejut, gadis berkerudung biru itu berhenti sejenak. Tepat di depan sebuah toko kue yang sudah tutup. Kenangan masa lalunya kembali berkecamuk.
***
"Ini, buat oleh-oleh orang rumah." ucap laki-laki itu sambil memberikan sekantong kue basah padanya.
"Nggak usah repot-repot." balas gadis itu sambil melipat payungnya yang basah. "Mending buat kamu aja, buat camilan di kosan."
"Nggak apa-apa. Ini." Laki-laki itu memberikan kantong plastik putihnya tepat di genggaman gadis itu.
"Makasih." Senyum yang indah melengkung di bibir tipisnya. Senyum manis yang hanya ia tunjukan pada sosok yang tengah berdiri di hadapannya.
"Udah reda." Ucap laki-laki itu sambil menengadahkan kepalanya ke arah langit yang masih tampak kelabu. "Mau pulang sekarang?"
Pelan, sang gadis mengangguk.
***
Ia kembali pada kenyataan. Melewatkan masa lalu yang melintas sejenak. Tepat di depan toko kue itu. Ketika hujan baru saja reda seperti sekarang. Saat itu, adalah saat terakhir ia melihatnya. Laki-laki itu. Sudah hampir lima tahun sejak saat itu, ia belum pernah melihatnya lagi. Entah dimana dia sekarang. Yang ia ingat, laki-laki itu berpamitan untuk pergi ke suatu tempat dan agak lama. Tapi ia tidak menyangka akan menjadi selama ini.
Gadis itu masih menyimpan kontaknya. Tapi tak sekali pun ia berani bertanya kabar padanya. Dan, laki-laki itu pun tak sekali pun memberikan tanda. Sekadar bertanya kabar, atau memberikan kabar padanya.
Gadis itu masih menyimpan kontaknya. Tapi tak sekali pun ia berani bertanya kabar padanya. Dan, laki-laki itu pun tak sekali pun memberikan tanda. Sekadar bertanya kabar, atau memberikan kabar padanya.
"Hmm." Gadis itu kembali menginjak pedal gas mobilnya. Melaju meninggalkan toko kue yang sepi itu.
***
Jika ada kata lain yang lebih dari rindu, mungkin itu yang ingin aku ucapkan padamu sekarang. Kamu di mana? Apa kabar?
Kursornya berhenti di akhir tanda tanya itu. Berkedip tanpa mengetikkan kata-kata lagi. Jemarinya yang lentik menekan tombol "ctrl" dan "S". Menyimpan ceritanya tentang rindu hari ini.
Entah sudah berapa kali ia mengungkapkan rindu di sana. Terlalu banyak file yang ia simpan. Semua tentang laki-laki itu. Terselip harap dalam rindu yang ia taruh di sana.
Seperti bisanya, setelah selesai mengetik, ia mencetak kata-kata itu. Melipat kertasnya menjadi bentuk pesawat terbang. Dari lantai 5 flatnya, ia terbangkan pesawat kertas itu. Berharap angin membawa rindu-rindunya terbang jauh. Entah akan sampai pada orang yang tepat, atau hanya hinggap di dahan-dahan pohon di depan flatnya.
Tanpa memedulikan pesawat kertas itu akan tiba dimana, sang gadis berjalan menjauh dari jendela. Membaringkan tubuhnya di atas kasur. Sambil menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih bersih, angannya mengawang. Rindu menjelma menjadi setitik kristal yang siap mencair di sudut matanya.
Lima tahun. Ia pikir rasa akan dengan mudah pudar seiring berjalannya waktu. Tapi mengapa rindu malah semakin tumbuh subur. Sampai akar-akarnya menusuk ke jantung. Gadis itu mengatupkan kedua kelopak matanya.
***
Gumpalan awan kelabu masih menyelimuti langit sejak kemarin. Membuat matahari enggan beranjak dari tempatnya terlelap. Tapi gadis itu sudah melipat rapi selimutnya. Bersiap menyambut rutinitas. Bekerja.
Sesuatu terjatuh di depan pintu flatnya. Sebuah pesawat kertas yang sering ia buat. Dengan satu tanda tanya dalam hatinya, ia raih kertas itu. Rasa penasaran membuat tangannya spontan membuka lipatan kertas itu.
Toko kue. Selepas makan siang. Semoga hujan sudah reda.
Penasaran. Rindu. Bahagia. Bercampur aduk dalam benaknya ketika membaca tiga kalimat singkat itu. Mungkinkah itu dia?
***
Pukul 11.00. Deras. Hujan pun datang seperti yang sudah diramalkan. Gadis itu menatap keluar dari jendela kantornya. Semoga hujan segera reda, bisiknya.
Pukul 12.00. Belum ada tanda-tanda hujan akan berhenti. Gadis itu mulai tidak sabar. Sambil memegangi secangkir teh manis hangat di tangan kanannya, ia menatap rintik hujan yang tak kunjung reda.
Pukul 12.30. Tidak peduli. Ia beranjak pergi.
Mobilnya melaju menembus jalanan yang basah. Tanpa peduli hujan yang kembali deras, ia berharap, pesawat kertas tadi pagi itu tidak bohong. Seseorang menunggunya di sana. Mungkinkah?
***
Tanpa memedulikan pesawat kertas itu akan tiba dimana, sang gadis berjalan menjauh dari jendela. Membaringkan tubuhnya di atas kasur. Sambil menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih bersih, angannya mengawang. Rindu menjelma menjadi setitik kristal yang siap mencair di sudut matanya.
Lima tahun. Ia pikir rasa akan dengan mudah pudar seiring berjalannya waktu. Tapi mengapa rindu malah semakin tumbuh subur. Sampai akar-akarnya menusuk ke jantung. Gadis itu mengatupkan kedua kelopak matanya.
***
Gumpalan awan kelabu masih menyelimuti langit sejak kemarin. Membuat matahari enggan beranjak dari tempatnya terlelap. Tapi gadis itu sudah melipat rapi selimutnya. Bersiap menyambut rutinitas. Bekerja.
Sesuatu terjatuh di depan pintu flatnya. Sebuah pesawat kertas yang sering ia buat. Dengan satu tanda tanya dalam hatinya, ia raih kertas itu. Rasa penasaran membuat tangannya spontan membuka lipatan kertas itu.
Toko kue. Selepas makan siang. Semoga hujan sudah reda.
Penasaran. Rindu. Bahagia. Bercampur aduk dalam benaknya ketika membaca tiga kalimat singkat itu. Mungkinkah itu dia?
***
Pukul 11.00. Deras. Hujan pun datang seperti yang sudah diramalkan. Gadis itu menatap keluar dari jendela kantornya. Semoga hujan segera reda, bisiknya.
Pukul 12.00. Belum ada tanda-tanda hujan akan berhenti. Gadis itu mulai tidak sabar. Sambil memegangi secangkir teh manis hangat di tangan kanannya, ia menatap rintik hujan yang tak kunjung reda.
Pukul 12.30. Tidak peduli. Ia beranjak pergi.
Mobilnya melaju menembus jalanan yang basah. Tanpa peduli hujan yang kembali deras, ia berharap, pesawat kertas tadi pagi itu tidak bohong. Seseorang menunggunya di sana. Mungkinkah?
***

Komentar
Posting Komentar