Langsung ke konten utama

Manusia Kuat Itu, Ibu

source: https://pin.it/3azR4oH3G

Aku pikir manusia terkuat itu adalah orang yang memiliki kekuasaan, memeiliki banyak uang, hingga ia bisa mendapatkan apa pun yang dia mau. ternyata aku salah. Manusia terkuat itu adalah seorang yang mereka beri gelar, "Ibu".


Ya, Ibu...

Seorang perempuan yang rela meninggalkan dunia luasnya, demi menghidupkan dunia kecilnya yang ternyata tidak mudah.

awalnya, ia pikir mengandung adalah masa tersulitnya. Badannya berubah. Suasana hatinya berubah. Bahkan selera makan pun berubah. ia yang dulu bisa makan apa saja, kini minum air putih saja rasanya mual. makan nasi putih dan telur dadar saja muntah. semakin perutnya membesar, memakai sepatu atau menggunting kuku saja perlu bantuan. posisi tidur tidak lagi nyaman. miring kiri, miring kanan, serba salah. Ia kira setelah bayinya lahir, beban itu hilang. Nyatanya, perjuangan itu baru akan dimulai.

Melahirkan ternyata begitu sakit. Ia yang selalu merasa kuat, nyatanya berteriak ketika merasakan gelombang cinta itu datang. Tapi, apakah ia menyerah? tentu tidak. dengan penuh harap, ia melahirkan manusia kecil itu ke dunia. seketika rasa sakitnya sirna. Namun, perjuangan bernama menyusui itu baru akan dimulai. 

Tangisan bayi ketika dilahirkan penuh dengan sambutan bahagia dan lantunan doa. Tapi, tangisan ibu yang tengah berjuang menyusi di hari-hari pertamanya dengan gelar ibu itu tidak ada yang mengapresiasi. Bayinya nangis, ibunya yang salah karena asinya seret. Tapi tahukah kita, bahwa hari-hari pertama menyusi itu rasanya sakit, perih, bahkan ada yang sampai berdarah-darah. Kadang ia butuh menangis untuk sedikit meringankan beban. Ia ingin ketika menangis ia dipeluk, diusap kepalanya dengan penuh kasih sayang, bukan disalahkan.

Enam bulan yang penuh perjuangan. Apakah sudah selesai? Tidak, babak baru akan segera dimulai. Bayinya kini sudah belajar makan. bubur saring yang halus ia buat dengan penuh cinta. Ia buat menggunakan kedua tangannya sendiri. Apakah ada apresiasi? hmmm...sayangnya bayinya menolak disuapi, buburnya tumpah, mangkuknya belah, ia coba membuat lagi dan lagi. Bayinya menolak lagi. "Udah pake instan aja, ga usah ribet-ribet masak sendiri, anaknya juga ga mau." begitu katanya. Ia coba suapi bubur instan. Bayinya kurus, ibunya lagi yang disalahkan. Makannya ga bener, asinya kurang, makanannya ga bergizi. Tapi pernahkah kita mengapresiasi usahanya untuk mengajari bayinya makan? mengapresiasi usahanya untuk belajar menyiapkan makanan yang sehat untuk anaknya?

Dua tahun ia menyusui, mengajarinya makan, hingga tiba saatnya menyapih. Ia menangis menatap sepasang mata yang sudah tidak bayi lagi. Mata yang berbinar penuh harap. Mata yang awalnya hanya berkaca-kaca, hingga pecah menjadi tangis yang menyayat hati seorang ibu. 

Bayinya kini beranjak besar. dua tahun, tiga tahun, empat tahun, lima tahun, dan kini ia bersiap untuk menenal dunia luasnya di sekolah. bertemu teman baru, guru-guru. Besar harapan seorang ibu anaknya tumbuh menjadi pribadi yang tangguh. Menjadi anak yang baik dan shalih. Apakah harapan itu ia capai dengan mudah?

Hari-hari beratnya ternyata belum usai...

Bentakan, teriakan, tangisan terkadang ikut mewarnai dunianya. Terkadang ia merasa kehilangan dirinya yang dulu. terkadang, ia merindukan dirinya yang dulu. Tapi ia kembali menatap kelopak mata yang tengah lelap tertidur. Dunia kecilnya yang kini sudah mulai menjejaki alam semesta. Ada rasa bersalah yang menyesakkan dada pun juga ada syukur yang terselip dalam doa.

Wahai manusia paling kuat di dunia, para ibu...

Kalian hebat dengan versi kalian masing-masing. Aku pun menguatkan diriku sendiri lewat tulisan ini. Mungkin kita tidak mendapat apresiasi dari makhluk, tapi Sang Pemilik alam semesta ini tidak pernah sedetikpun melewatkan doa-doa kita. Apresiasi tertinggi kita adalah dari-Nya.

Jangan patah semangat, karena setiap lelah pasti Dia catat pahala. Setiap rasa sakit dan lukamu adalah penggugur dosa.


- Jurnal Igar, 16 April 2026 -

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyambut Lailatul Qadar

 Resume Kajian Subuh Akhwat Al Lathiif Menyambut 10 Hari Terakhir Ramadhan Umi Aisyah 20 Ramadhan 1447 H Iman adalah motivasi terbesar dalam kehidupan seorang muslim. Dengan iman, seseorang mampu menjalani kehidupan dengan penuh harapan, ketenangan, dan kebahagiaan—baik di dunia maupun di akhirat. Iman bukan hanya sesuatu yang abstrak, tetapi bisa dijabarkan dalam kehidupan nyata dan dibuktikan melalui amal. Salah satu bentuk nyata dari iman adalah ketaatan kita menjalankan ibadah yang Allah perintahkan, termasuk ibadah puasa di bulan Ramadhan. Allah mensyariatkan puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi agar kita mencapai derajat takwa. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ "Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 183...